Rabu, 22 Januari 2025

Review Novel Nemesis - Agatha Christie

Bismillah. Di awal tahun 2025 ini, saya pengin review novel klasik yang sudah lama selesai dibaca saat tahun kemarin. Hanya saja realisasikan review-nya sekarang karena waktu itu kurang niat, mager (malas gerak), dan takut ga bisa review novel ini. Meskipun saya sudah sering review novel tapi masih ga pede (percaya diri), guys! Padahal kan usaha dulu ya, nulis saja, hasilnya nanti belakangan. Tahun, kemarin jarang banget sih saya nulis di blog ini, postingan ga nyampe sepuluh. Apa kabar ya, my readers? Hahaha, geer (gede rasa) banget kayak punya saja:v ya sudah, cukup curcolnya.

Novel ini berjudul Nemesis dari penulis Agatha Christie. Penulis dari Britania Raya a.k.a Inggris ini memang legend dengan novel fiksinya yang sering bercerita tentang detektif. Penulis kelahiran 1890 dan meninggal di tahun 1976 (86 tahun semasa hidup) ini bahkan karyanya masih bisa kita nikmati saat ini. Memang penulis itu abadi ya dalam karyanya, terlebih dia tokoh perempuan yang mendunia. Sebenarnya, saya sudah lama mendengar nama penulis ini sekitar delapan atau sembilan tahun yang lalu tapi baru kali ini pengin menyoba membaca karyanya karena tertarik saat baca blurb di belakang sampulnya. “Biarkan keadilan mengalir bagaikan arus yang kekal,” Waktu itu lagi lihat-lihat banyak buku yang ada di rak Gramedia dalam mall kota saya. Mumpung ada duit THR dari bapak auto beli di malam lebaran itu. Saya nggak langsung sering membacanya, sering mengulur karena memang tengah nggak mood baca atau alurnya yang lambat saat di awal terasa bosan menurut saya. Namun, karena sudah terlanjur dibeli jadi mubadzir kan kalau nggak dibaca terus, hehe. Selesaikanlah apa yang sudah dilakukan, terlebih itu buku dan kupikir sebagus apa sih tulisan penulis yang satu ini?

Ternyata memang nggak diragukan lagi, nggak nyesal lah bacanya. Novel yang terbit pada tahun 1971 ini bercerita tentang seorang wanita tua bernama Jane Marple yang biasa dipanggil Miss Marple mendapat surat dari kawannya sebelum meninggal. Surat itu berisi bahwa dia mesti menyelidiki suatu kasus pembunuhan tapi kawannya nggak kasih clue yang diperlukan. Bayangkan saja seorang nenek yang biasanya baca surat kabar saat petang, menderita rematik, merajut, dapat tugas menjadi detektif untuk mengungkapkan siapa yang terlibat dalam pembunuhan dan di mana terjadi kejadiannya, siapa yang menyangka? Tapi, Miss Marple lebih nggak menyangka kalau dia dapat surat itu dari Mr. Rafiel.

Mr. Rafiel digambarkan punya kepribadian yang kuat, sulit, bahkan kadang-kadang kasar sekali tapi orang-orang nggak benci itu karena dia luar biasa kayanya. Seseorang yang mengumpulkan uang banyak sekali sepanjang hidupnya. Sementara, Miss Marple bukan orang yang kejam, kecuali saat berhadapan dengan keadilan. Dia pernah membuat seorang anak ketakutan saat mendapatinya menyiksa kucing. Miss Marple sering berbincang dengan pikirannya, dan mengakrabkan diri dengan orang di sekitar untuk mendapatkan informasi guna penyelidikannya. Dia bertindak dengan banyak bertanya dan bicara, suka mencari tahu serta amat berhati-hati.

Miss Marple bercerita kalau dia bertemu dengan Mr. Rafiel sekali saja di kepulauan Bahama, yang terletak di Karibia. Mereka hanya sempat sekali-sekali bercakap-cakap, meskipun begitu Mr. Rafiel mempercayakan tugas berat itu ke Miss Marple dengan imbalan yang banyak sekali. Dua puluh ribu pound yang jika dirupiahkan pada zaman itu sekitar dua puluh satu juta rupiah dan lima miliar di tahun sekarang. Meski Miss Marple sudah berumur tapi uang kan memang tidak bisa disia-siakan di umur berapapun.

Mulanya sesuai arahan surat dari Mr. Rafiel, Miss Marple mengikuti sebuah tur “The Famous Houses and Gardens of Great Britain”, yang berlangsung selama dua atau tiga minggu. Miss Marple menumpang bus yang berisi enam belas penumpang. Miss Marple menebak mungkin orang-orang yang ada di dalam bus bisa menjadi bagian petunjuk dari tugas yang akan dilakukannya. Miss Marple mencatat pengamatannya. Miss Marple juga menginap di rumah The Old Manor House sepuluh menit dari hotel yang merupakan instruksi Mr. Rafiel.

Yang saya suka, novel ini mempunyai plot twist. Miss Marple memang cerdas dalam memecahkan kasus misteri ini. Novel ini paripurna dan membuat saya tidak sabar menamatkan beberapa part terakhirnya. Novel ini adalah kaya terakhir dari seorang Agatha Christie di akhir riwayat hidupnya. Kata kawanku yang pernah membaca karya penulis ini,  “Agatha suka menulis cerita yang berbelit-belit supaya karakternya kelihatan pintar. Zaman dulu sih cerita detektif itu susah buatnya jadi begitu ada yang buat dan oke ... ya terkenal lah wkwk. Kalau sekarang mah sudah banyak saingan, jadi harus otentik biar laris.” Hm, sudut pandang yang menarik. 

Intinya, menurut saya novel ini sangat recommended untuk dibaca untuk pembaca dengan umur di atas 17 tahun, meskipun bahasanya baku dan terkadang butuh waktu lama untuk mencerna. Novel dengan tema cinta, kepercayaan, dan pengkhianatan ini punya pesan moral yang penting bahwa keadilan bisa ditegakkan dari kasus lama yang telah terkubur. Ending-nya memuaskan.

Beberapa quotes yang kusuka, “Menyedihkan sekali bila seseorang meninggal pada usia muda. Soalnya banyak yang tak dapat mereka nikmati. Tapi mereka juga terlepas dari banyaknya kesulitan.”

“Cinta. Itu adalah salah satu kata yang paling mengerikan di dunia ini.”

“Dalam hidup ini kita tidak akan berhasil kalau tidak berani mengambil risiko, bila memang perlu.”

“Karena kalau cinta kita cukup besar, kita akan bersedia berkorban, meskipun itu akan menghasilkan kekecewaan atau banyak kesedihan.”

“Kejahatan yang kejam itu sama dengan kanker—tumor yang ganas. Itu menyebabkan penderitaan.”

“Orang merasa malu sekali bila harus mengucapkan terima kasih dan memulai hidup baru lagi.”

“Kebulatan tekadlah yang membawa keberhasilan, bukan?”

“Menurut saya, rasa benci bisa hilang. Kita bisa mencoba untuk seolah-olah mempertahankan rasa benci itu, tapi itu akan gagal. Rasa benci tidak mempunyai kekuatan sekuat rasa cinta.”

“Seks tidak dapat menggantikan cinta. Seks mengiringi cinta, tapi hanya seks saja tidak akan berhasil. Cinta sama artinya dengan kata-kata yang diucapkan pada misa pernikahan. Dalam senang dan susah, dalam keadaan kaya dan miskin, serta dalam keadaan sakit dan sehat. Itulah yang harus dihadapi seseorang, bila dia mencintai seseorang dan ingin menikah dengannya.”

Penggambaran lingkungan rumah Jane Marple

Tanaman merambat yang cepat tumbuh, amat berguna sebagai penutup pagar dan bangunan lainnya yang tidak sedap dipandang. Bunga yang menarik menurutku, karena kecil-kecil, putih. Cantik sekali.

Salah satu halaman favorit saya adalah saat Miss Marple berbicara dengan Clotilde, di mana ketegangan antara kedua karakter sangat kuat.

Sekian, Thankyouu^^

Jumat, 10 Mei 2024

Review Novel Yang Telah Lama Pergi - Tere Liye

Bismillah, aku ingin me-review sebuah novel yang berjudul Yang Telah Lama Pergi oleh Tere Liye. Sedikit intermezzo, alasan kenapa aku suka review novel itu supaya ga mudah lupa dengan alur ceritanya. Aku juga pernah dengar istilah “Baca elit, review sulit” sebenarnya sih it’s okay kalau mau baca saja tanpa review, kan itu hak prerogatif ya.

Cerita bermula ketika Al Mas’ud sang pengembara dari Baghdad, pembuat peta yang ditangkap para perompak di kapal. Ia tengah diadili sebelum dihukum karena dikira merupakan mata-mata kerajaan. Ia selamat karena Biksu Tsing yang punya hubungan baik dengan pimpinan bajak laut Selat Malaka, Raja Perompak.

Raja Perompak bernama Remasut dan mempunyai penasihat arif bernama Pembayun. Pada umumnya, Perompak itu mudah membunuh dan menjarah harta benda milik orang lain. Remasut memiliki visi berbeda, dia berhasil menyatukan para perompak. Mereka memang masih memenggal kepala lawannya, tapi mendahulukan proses pengadilan di geladak kapal untuk memberikan kesempatan lawan membela diri. Raja Perompak mengumpulkan kelompok kapal suku ‘Orang Laut’ yaitu suku Lambri dan Visayan. Raja Perompak juga memiliki keempat Hulubalang serta tabib, koki, hakim bahkan pemusik.

Remasut tentu memiliki peristiwa di masa lalu yang menjadi motivasi terbesar di hidupnya dan menjadikan dia seperti sekarang. Peristiwa itu diceritakan oleh Pembayun. Jadilah Mas’ud berada di kapal perompak sekarang, menjadi penasihat muda. Mas’ud juga berlatih pedang dengan samurai, Emishi. Raja Perompak berniat menyerang Kerajaan Sriwijaya dan hal pertama yang ia lakukan justru strategi untuk melumpuhkan armada kerajaannya terlebih dahulu dari utara, timur, barat dan selatan. Remasut juga meruntuhkan benteng Kota Panai yang dekat dengan kerajaan tanpa menyakiti penduduknya dari solusi Mas’ud.

Cerita ini memiliki plot twist, terutama di bagian ending. Gaya narasinya mudah dipahami. Novel ini memiliki banyak kelebihan terutama di bagian strategi bertempur. Kekurangannya, karakter dibuat seakan terlalu sempurna bahkan tidak manusiawi atau bahasa sekarangnya OP (Overpowered). Pesan moral banyak terdapat dalam quotes yang tertera.

"Tubuhmu kurang turun, agar saat maju atau mundur kepalamu tetap stabil. Kakimu terlalu lebar, bahkan kambing bisa berlarian di bawahnya. Setiap pemain pedang yang lihai, dia memiliki kuda-kuda yang kokoh." -Emishi.

"Agar perompak lain menghormatimu. Respek tidak diberikan gratis, Al Baghdadi. Kamu harus mendapatkannya sendiri dengan bertarung. Raja Perompak memberikanmu kesempatan terbaik." -Emishi.

"Perompak mungkin saja tidak pernah punya niat baik, Al Baghdadi. Mereka hanya tahu soal menjarah, merampok. Tapi kadang kala, saat sesuatu yang terlihat kejam, jahat terjadi, boleh jadi ada kebaikan di dalamnya. Hikmah, bukankah begitu bangsa kalian menyebutnya? Ada hikmahnya." -Pembayun.

Aku tahu kenapa Biksu Tsing menyelamatkanmu, Al Baghdadi.... Dia tahu, kamu bukan hanya pembuat peta. Kamu memiliki sesuatu yang dibutuhkan dalam rencana ini. Kamu peduli. Dan kamu berani menunjukkan kepedulian itu. Lihatlah, kamu nekat melawan Raja Perompak. Bahkan Hulubalang terkencing-kencing jika Raja Perompak membentak seperti tadi. Kamu tidak. Kamu memang takut, wajahmu pucat pasi, tapi demi penduduk Kota Panai, kamu menyingkirkan rasa takut itu. Bukankah itu yang terjadi tadi?" Pembayun.

"Untuk mempercepat prosesnya, mereka juga menggunakan strategi menghasut. Itu trik kuno yang licik. Tapi siapa yang akan meributkan moralitas? Semua sah dilakukan saat perang."

Raja Perompak, di antara mitos, legenda, cerita-cerita hebat tentangnya, dia tetap seorang manusia. Dan hari ini, dia kehilangan sepupunya, satu-satunya keluarga yang dia miliki di muka bumi. Dia memang Raja Perompak, memimpin ribuan perompak yang suka menjarah, membunuh, penjahat. Namun di dalam dirinya, dia tetaplah manusia yang punya perasaan. Masih ada kebaikan di sana. Siapa yang lebih mulia dari raja-raja munafik. Seolah-olah mulia, seolah-olah dia peduli pada rakyat, namun kenyataannya dia egois dan jahat."

"Rencana yang matang, persiapan yang matang, adalah kunci memenangkan pertempuran besar."

"Kamu akan membahayakan dirimu sendiri di luar sana, Al Baghdadi. Kamu akan terlempar oleh ombak. Sekali kamu masuk laut, nasibmu tamat. Aku tidak mau kehilangan temanku." -Pembayun.

"Aku tahu hidupmu penuh dengan ujian. Kegagalan. Kehilangan. Rasa sakit. Kecewa. Marah. Datang silih berganti. Tapi ketahuilah, kamu bukan lagi anak kecil yang terapung-apung sendirian di atas gentong kayu. Kamu sekarang adalah pemuda cerdas, berpengetahuan, berani, dan pandai bertarung. Semua masa lalu itu. Semua kehilangan. Rasa sakit. Peluk erat-erat, Remasut. Karena kalau pun kita kehilangan, gagal, tidak mendapatkan apa pun, kita tetap memperoleh sesuatu yang spesial. Menemukan sesuatu yang berharga. Pelajaran. Dan boleh jadi itulah yang penting dan abadi. Atau boleh jadi, itulah yang sedang membentuk karakter, masa depanmu. Kamu sedang disiapkan untuk sesuatu yang besar tadi. Aku percaya, suatu saat, kamu akan menemukan ketenang lan hidup, Remasut. Atau setidaknya, tahu pasti apa yang akan kamu lakukan....." -Tsing.

"Aku melatihmu untuk mampu bertahan atas serangan sesulit apa pun. Dan itu sangat penting. Ingatlah, samurai terbaik di dunia adalah samurai yang bahkan tidak pernah memulai menghunuskan pedang lebih dulu. Dia hanya bertahan. Dia mungkin akhirnya membunuh lawan, tapi dia bertahan. Itulah yang sedang kuajarkan kepadamu, Al Baghdadi. Agar anakmu kelak, masih mengenali ayahnya, seorang pembuat peta. Agar istrimu nanti, masih mengenali suaminya, seorang laki-laki yang tidak berlumuran darah. Berdiri." -Emishi.

"Tenang saja, pengkhianat tidak akan mengkhianati orang yang akan membantunya membalaskan dendam." -Pembayun.

"Aku datang tidak untuk membalaskan dendam, Khan. Aku datang karena inilah takdirku. Dan aku dengan senang hati menjalaninya. Seperti sungai yang mengalir. Mungkin. Aku kalah. Atau aku menang. Tapi apa pun hasilnya, dengan senang hati aku menjalani takdirku. Berusaha melakukan yang terbaik." -Emishi.

Sabtu, 30 Maret 2024

Kematian Itu Niscaya

Aku nggak pernah menyangka jika mendengar kabar tentang seseorang yang telah meninggal. Padahal aku tahu, kematian adalah niscaya untuk setiap makhluk yang merasakan hidup. Teringat, aku pernah menelpon seseorang meminta bantuannya untuk mencari data proposal KTI-ku dan beliau menyanggupinya. Kepekaan beliau juga pernah menyelamatkanku saat hampir tenggelam. Aku nggak bisa membayangkan kalau saja Allah nggak menolongku melalui perantara beliau waktu itu. Hanya saja, aku nggak berekspektasi kalau beliau dijemput oleh-Nya secepat itu. Memangnya, siapa juga yang tahu kapan seseorang akan meninggal?

Guru favoritku saat SMP juga lama telah berpulang. Aku masih ingat apa yang beliau ceritakan dan bagaimana cara mengajarnya di kelas. Beliau orang Surabaya yang lama di Aceh dan kalau tidak salah punya nomor telepon sudah puluhan tahun dipakai. Aku tahu beliau pernah membeli jajanan risolku saat pentas seni. Beliau juga pernah bilang di depan teman sekelas kalau jawabanku tentang cara kerja ‘Pegadaian’ benar. Banyak teman yang nggak punya jawaban sepertiku karena tidak ada di buku. Ada teman yang bilang, aku mirip dengan beliau karena sukuku juga Jawa.

Guru di waktu SD juga merupakan orang yang ceria tiba-tiba ada masalah pada kesehatannya. Aku pernah mengunjungi ibu itu di RS, beliau terlihat bersikap tegar, asyik bercerita dan masih menyunggingkan senyuman. Entah aku yang berlebihan atau bagaimana, beliau mungkin senang dijenguk lalu mengajak foto bareng dengannya untuk dipamerkan ke ibuku. Beliau sering pindah dan lama di rumah sakit sampai Allah memanggilnya.

Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” QS. Ali Imran: 185.

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” QS. An Nisa’: 78.

Aku pernah memimpikan mereka yang sudah meninggal, rasanya begitu dalam karena aku tidak bisa bertemu dengan mereka lagi saat masih di dunia ini. Entah namanya alam bawah sadar atau apa tapi aku percaya itu datangnya dari Allah. Aku hanya bisa mendo’akan, semoga mereka yang sudah meninggal ditempatkan di tempat yang layak dan terbaik sisi-Nya. Orang-orang baik yang pernah kukenal, semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan. Insya Allah, kami akan menyusulmu.


Lhokseumawe, 19 Februari 2024.

Jumat, 01 Maret 2024

Kutipan Pentingnya Menuntut Ilmu

Bismillah … Aku ingin membagikan kutipan pentingnya menuntut ilmu dalam buku yang pernah kubaca setahun lalu. Aku tahu buku Muslim Hebat: Mengubah Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa oleh Abu Umar Abdillah dari kakak asrama. Aku paham nggak semua orang suka diberi kata-kata motivasi, tapi harapannya kutipan ini bisa memotivasi buat yang membutuhkannya, khususnya aku sendiri. 

"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS al-Mujadalah 11).

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

"Barang siapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke jannah." (HR Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan).

أَخِي لَنْ تَنالَ العِلْمَ الأَبِسِيَّةٍ سَأُنْبِئُكَ تَفْصِيلَهَا بِبَيَانٍ ذَكَاءٍ وَحِرْصِ وَاجْتِهَادٍ وَدِرْهَمٍ وَصُحْبَةِ أُسْتَادٍ وَطُولِ زَمَانٍ

"Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam hal, akan saya jelaskan rinciannya dengan jelas. Dengan kecerdasan (berfikir), tamak terhadap ilmu, kesungguhan, dirham (biaya), berguru kepada ustadz dan waktu yang panjang." -Imam asy-Syafi'i.

"Barangsiapa yang tidak pernah merasakan pahitnya mencari ilmu, niscaya dia akan mengenyam pahitnya menjadi orang bodoh sepanjang hayat." -Imam asy-Syafi'i rahimahullah.

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيدْ صُيُؤْدَكَ بِالْجِبَالِ المُؤْثِقَهُ وَمِنَ الجَهَالَةِ أَنْ تَصِيْدَ حَمَامَةً وَتَتْرَكُهَا بَيْنَ الأَوَانِسَ مطلقه

"Ilmu adalah buruan, sedangkan catatan laksana tali pengikat Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat Adalah tindakan bodoh jika Anda menangkap merpati lalu Anda biarkan ia terlepas bersama kawanannya" -Imam asy-Syafi'i.

"Ilmu tidak akan didapat dengan berleha-leha." - Yahya bin Abi Katsier.

"Jika kamu mendengar suatu ilmu maka tulislah, meskipun (jika tak ada kertas) di dinding, itu lebih bagimu, karena suatu saat kamu pasti membutuhkannya." -Imam asy-Sya'bi.

"Segala puji bagi Allah, karena wahyu yang diturunkan pertama kali adalah ayat-ayat yang penuh barakah tersebut. Ini merupakan rahmat, sebagai wujud kasih sayang Allah kepada hamba-Nya." Beliau juga mengatakan, "Terkadang ilmu hadir dengan berfikir, terkadang dengan lisan, dan terkadang dengan tulisan." Lalu beliau menambahkan sebuah atsar, "Ikatlah ilmu dengan catatan." -Ibnu Katsier.

"Carilah hatimu di tiga keadaan; saat mendengarkan al-Qur'an, saat berada di majelis ilmu dan saat menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika kamu tidak mendapatkan hatimu di sana, mohonlah kepada Allah untuk memberikan hati untukmu karena kamu tidak memiliki hati." -Abdullah bin Mas'ud.

Syukran katsiran.

Sabtu, 24 Februari 2024

Merasa Menyesal Karena Mengenal Seseorang?

Sebuah tweet dari akun centang biru tertulis, @anyaselalubenar “Kadang suka nyesel nggak sih? Mending nggak usah kenalan sekalian, jadi nggak sedalam itu”.

Aku jadi mikir, itu benar. Aku juga pernah merasakan menyesal mengenal seseorang. Bukan karena dia nggak baik, tapi kenapa akhirnya dia hilang? Itu membuatku sulit melupakan tentangnya. Seharusnya dari awal aku menyadari, bahwa konsekuensi setelah pertemuan itu kepergian. Orang-orang bebas datang dan pergi sesukanya.

“Orang itu sulit dilupakan karena sudah memberi kenangan indah untuk yang pertama kalinya”.

Ya, aku setuju dengan itu. Kenangan itu indah tapi kenapa rasanya bisa menyakitkan? Lantas, apa gunanya kenangan? Bolehkan aku membenci kenangan?

Kata orang, “Pengalaman adalah guru terbaik”. Mungkin, ini semua bisa menjadi pembelajaran untukku. Kalau nggak ketemu dia aku nggak dapat pengetahuan baru. Ya, ambil baiknya saja. Bagaimanapun dia juga pernah baik sama aku. Jadi, terima kasih kesempatannya menjadi bagian yang kuikhlaskan di kehidupan ini. Sebuah bekal untuk aku melangkah lagi.

Aku sendiri juga pernah membuat seseorang menyesali karena pernah mengenalku. Saat mendengar dia mengatakannya, jujur merasa sedih dan ingin marah. Namun, aku jadi tahu “Oh jadi seperti ini rasanya disesali seseorang sebab mengenalku. Begitu juga saat mengatakan ke seseorang kalau aku menyesal mengenalnya, mungkin dia akan merasakan hal yang sama tidak menyenangkan itu.

Teringat, perkataanku ke seseorang, “Aku tidak pernah membayangkan kalau kita bisa saling mengenal.” Yang dijawab, “Tidak usah dipikirkan itu takdir.”

Benar seperti hadist,

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيْرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ.

“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi” HR. Muslim, Thirmidzi dan Abu Dawud.

Semua hal di dunia ini sudah ditakdirkan termasuk saat kita mengenal seseorang. Sebagai seorang muslim/muslimah kita mengimani percaya takdir-Nya. Berikhtiar (memilih dan menentukan) apakah menyesal atau bergembira karena pernah mengenal seseorang.



Minggu, 18 Februari 2024

Cerita Pengalaman Saat Sidang KTI

Bismillah … Sidang KTI (Karya Tulis Ilmiah) itu pada 19 Mei 2023, kurang dari tiga bulan setelah aku seminar proposalnya. Entah takdir atau bagaimana, hari saat sidang KTI itu sama seperti sempro yaitu Jum’at. Namun, jujur di antara kumpulan hari aku memang menyukai Jum’at karena banyak berkahnya dalam Islam. Aku sangat berharap pada-Nya, di hari Jum’at yang berkah bisa membawa kegiatan pentingku berjalan dengan lancar. Kegiatan itu entah kenapa juga berdekatan dengan kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya. Seperti waktu itu setelah sempro, Sabtu malamnya ada kegiatan SURAU (Silaturahmi Aneuk Asrama IPAU). Ahad pagi, kami juga mengadakan acaranya di Pantai Lampuuk. Aku ada di sana sampai setengah hari sebelum pamit bersama dua teman seperkuliahan untuk pulang ke Asrama. Besoknya, kami harus ada di Lhokseumawe untuk mata kuliah PPKM. Bukan singkatan dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat karena itu sudah dicabut Presiden saat Desember 2022, tapi ini Praktik Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. Sabtu nantinya juga setelah aku sidang KTI, dari Banda Aceh harus ke Medan untuk mata kuliah PKL (Praktik Kerja Lapangan) di Rumah Sakit.

Data penelitian sudah kulakukan dari Februari. Seperti pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sembari PPKM di Puskesmas, aku juga melakukan penelitian di sana. Hal itu karena ide Dosen Pembimbing yang baik hati, beliau menyarankan tempat penelitianku di Puskesmas itu. Memang proposal penelitianku di Lhokseumawe, tapi bukan di Puskesmas melainkan di salah satu desa. Namun, sekarang jadi dipermudah, aku merasa bersyukur. Penelitian juga tanpa mengeluarkan biaya karena menggunakan fasilitas Puskesmas dan dilakukan selama kami PPKM yaitu dua pekan.

Jujur judulku sangat mudah, karena aku sangat menyadari kalau bukan orang yang pintar-pintar amat. Sering aku merasa tidak percaya diri saat ditanya apa judulku, selalu bilang juga ‘Judulku mudah’. Sama sekali tidak ada niat untuk sombong karena seperti kata kakak sepupu “Untuk apa sombong, apa pula yang disombongkan”. Menurutku juga, yang penting aku suka dengan mata kuliah: Kimia Klinik terkait penelitiannya. Aku pernah dengar kalimat, "Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Skripsi juga nggak akan mengubah dunia, ya setidaknya sampai sejauh itu. Lalu, akan berakhir lama di Perpustakaan." Teman KKL (Kuliah Kerja Lapangan) program studi Keperawatan yang pertama kali kukenal saat bulan Maret juga bilang judulku mudah. Dia bilang, judul yang ia punya juga mudah karena tentang ‘Jiwa’ atau bisa dibilang bagian dari Psikologi karena memang banyak diminati mahasiswa di prodinya. Aku setuju dengannya karena berpikir kalau di prodiku juga banyak mahasiswa yang nilainya tinggi  dan sangat pintar tapi mengambil judul yang mudah. Aku nggak tahu alasannya, mungkin karena mau praktis saja ya sepertiku, tapi ada juga mereka yang mengambil judulnya susah. Susah karena penelitiannya membutuhkan banyak prosedur, waktu dan biaya untuk dilakukan. Salut kepada penelitian mereka, belum tentu aku bisa mengerti dan melakukan itu meskipun kami seprodi.

Aku banyak dibimbing oleh Dosen pada bulan April, tepatnya pada bulan Ramadhan. Di saat banyak Muslim dan Muslimah lainnya fokus beribadah aku selalu berkutat pada laptop. Hal yang paling kusukai saat itu adalah Shalat Tarawih di Masjid. Kapan lagi perempuan khususnya aku bisa shalat berjamaah di Masjid selain saat bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri serta Adha. Soalnya seperti hadits, perempuan baiknya shalat di rumah. Jujur, di Masjid aku merasa sangat tenang dan damai, aku tidak perlu memikirkan tentang dunia selama di sana. Aku bersyukur, letak Asrama dekat dengan Masjid sehingga aku bebas berjalan kaki dari qabla Isya sampai ba’da tarawihnya pukul 10 malam karena 20 rakaat. Meski, kata Ustadz shalat ba’diyah Isya lebih besar pahalanya daripada tarawih.

Kata temanku, sebenarnya kalau lebih berusaha lagi aku bisa sidang KTI di bulan April karena memang penelitian sudah siap dan tidak banyak revisi lagi, meskipun setelah sidang kemudian catatan saran terisi penuh. Mereka yang sidang KTI saat Ramadhan memang bagus karena bisa selesai sebuah tanggung jawab, bahkan saat lebaran nanti tidak ada beban pikiran. Aku sendiri memang tidak ingin terburu-buru tapi punya target harus bisa sidang KTI sebelum PKL di luar kota dan syukur Alhamdulillah tercapai.

Hari itu, berakhir pula kami PKL selama tiga pekan di RS : Kelas A Pendidikan, hari yang sama aku sidang KTI. Sebelumnya, seorang teman yang dosen pembimbingnya sama denganku juga ingin daftar sidang saat hari di mana jadwal aku sidang KTI. Aku nggak keberatan kalau sidangku dipercepat satu jam supaya dia bisa setelahku tapi sepertinya Dosen Pembimbing ada yang tidak bisa. Aku hoki karena lebih dulu daftar, rupanya ada yang tidak mendapatkan ksesempatan sama. Sepertinya, saat itu ada antara empat atau lima orang yang akan sidang KTI.

Aku minta izin kepada kakak petugas Laboratorium karena mengikuti PKL-nya sampai jam 12 siang atau sebelum shalat Jum’at yang biasanya selesai ba'da Ashar karena akan sidang KTI jam 3 siang nanti, mereka mempersilahkan. Kakak petugas Lab juga terus mengingatkan ‘Sudah jam berapa?’ supaya tidak lupa atau ketinggalan akan jadwal sidang KTI-nya. Mereka juga berpikir kayak ‘Sempat-sempatnya’ mengingat besok lusa kami juga sudah berada di Medan.

Sesampainya di Kampus, tiba-tiba saja aku disambut sebuah peluk dari seorang teman yang selesai sidang KTI jam 9 pagi tadi. Jujur, aku agak canggung juga karena tidak terbiasa terlebih merasa tidak dekat sekali dengannya tapi juga tetap membalas pelukannya. Kupikir setelahnya ,ternyata pelukan itu menyenangkan. :> Dia terlihat sangat bahagia dan lega, aku juga bilang ‘Selamat’ kepadanya dan ia menyemangatiku.

Aku tidak sendiri saat itu karena ada dua teman lainnya juga sidang di jam yang sebelum dan sama denganku tapi beda ruang. Kami saling membantu dari mulai menyiapkan laptop dan proyektor. Hingga tibalah saat sidang KTI-ku berjalan satu jam juga seperti sempro. Aku tahu tidak berjalan dengan lebih baik dari sempro sebelumnya. Ada bagian di mana aku disuruh para Dosen Penguji yang dua di antaranya Pembimbingku, untuk keluar sebentar dari ruang sidang karena mereka mau kompromi apakah bisa meluluskanku atau tidak. Setelah keluar, aku melihat seorang teman selesai sidang karena dia mulainya jam 2 siang tadi. “Nggak apa-apa itu, aku juga tadi disuruh keluar.” Katanya, menenangiku. Setelah itu, aku pun kembali masuk ke ruang sidang setelah dipanggil Dosen. Dalam hati, “Rasanya tidak ingin lagi masuk.’

Syukur Alhamdulillah, aku ‘Lulus’ kata Dosen Penguji, meskipun seperti yang telah kupikirkan nilainya lebih berkurang dari saat sempro tapi juga masih A. Tidak lupa, meminta temanku yang tadi di luar untuk dokumentasi Dosen memakaikan selempang untukku dan kami pun berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

Sebenarnya, aku tidak ingin membesar-besarkan hari itu, karena aku menganggap untuk menyelesaikan salah satu mata kuliah saja. Namun, teman dekatku di Asrama sekaligus sekelas juga memberi hadiah dan aku tidak pernah berekspektasi itu. Teman-teman asrama juga datang ke kampus untuk merayakanku setelah sidang KTI. Memang, sebelumnya karena teman dekatku berkata, “Kamu nggak bilang tiba-tiba besok sidang KTI-nya, itu pun aku tahu dari grup angkatan. Kamu juga nggak undang teman asrama? Sombong, lah.” Aku berpikir, ‘Masa sih sombong?’ Tapi, akhirnya aku kirim juga undangan lewat chat WhatApp ke teman asrama yang sering berinteraksi saja denganku karena malu kirim ke kakak senior. Aku merasa sidang yang akan kulakukan nggak sesempurna itu. Teman dekatku membalas chat, “Akhirnya, dapat juga undangan meskipun tengah malam.” Beserta emoji tertawa. “Karenamu ini.” Balasku. Bahkan, ada yang tiba-tiba menghampiriku yang tengah duduk di Sofa. “Hah, kamu besok sidang ya?!” Katanya. “Iya.” Jawabku, pendek. Terkadang aku berpikir, ‘Mungkin, apa karena aku tidak seheboh mereka ya saat sebelum sidang?’

“Terima kasih ya, karena sudah mau datang. Pakai bawa hadiah segala, jadi terharu.” Kataku kepada teman asrama. “Kan kita merantau, sama-sama di Asrama. Orang tua nggak mungkin datang ke sini, jadi merayakannya bersama teman.” Jawabnya. Tidak lupa kami juga mengambil foto. “Kalau kamu nggak bilang soal ‘undangan’ aku nggak dapat hadiah dan foto kenangan seperti ini.” Kataku kepada teman dekat, dia tersenyum kemenangan.



Sabtu, 17 Februari 2024

Beberapa Lagu Religi yang Kusukai dan Menginspirasi

Kalau pertama kali mendengar lagu, kamu fokus ke lirik atau nadanya? Yeah, apapun itu setiap lagu pasti punya tempat tersendiri di pendengarnya. Bahkan, ada yang memasukkan seseorang ke dalam lagu. Jadi, saat mendengar lagu tertentu ia jadi merasa flashback, mengenang masa lalu dan gagal move on deh wkwk. BTW jujur, sebenarnya aku sendiri tidak ingin menjadi orang yang terlalu berlarut dalam lagu karena takut lalai. Namun, nggak bisa aku pungkiri banyak lagu bagus yang liriknya mengajak pesan kebaikan, seperti lagu genre religi. Lirik indah yang bisa menggerakkan semangat seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana. Berikut beberapa lagu religi yang kusukai dan menginspirasi.


1.     1. Muhasabah Cinta – Edcoustic

Lirik dalam lagu ini menceritakan tentang seseorang yang diberi ujian berupa sakit, ia merasa sangat lemah dan menyadari ternyata sehat adalah sesungguhnya nikmat. Ia intropeksi diri kalau sebelumnya kurang akan rasa syukur. Kini, ia memohon ampun atas salahnya, berharap cinta-Nya dan tawakal. Meminta diberi kekuatan dan jika meninggal dipertemukan dengan Ilahi. Sepotong lirik,

“Tuhan baru kusadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini kuharapkan cinta-Mu

Kata-kata cinta terucap indah

Mengalir berzikir di kidung doaku

Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku.” TKP

 

Edcoustic, grup nasyid dari Bandung pada tahun 2002 dan lagu ini dirilis tahun 2008. Salah satu personilnya Aden yang juga merupakan penulis lirik lagu ‘Ketika Cinta Bertasbih – Melly Goeslaw feat. Amee’, telah meninggal. Al Fatihah buat beliau.

 

2.     2. Seharusnya Terlambat (OST. Jangan Buat Aku Berdosa)

Lirik dalam lagu ini bercerita tentang seorang Muslimah yang tengah menyukai lawan jenisnya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu, tapi seharusnya perasaan tersebut tidak terlalu terbawa di luar ikatan halal sehingga bisa menimbukan dosa. Muslima ini tidak menyalahkan orang yang membuat ia jatuh hati dan perasaan yang di luar kendalinya. Pada akhirnya Tuhan yang tahu bersama siapa takdirnya.

“Tak sepenuhnya salahmu

Hatiku lemah jauh darinya

Menahan takdir kedatanganmu

Bukan kuasaku

Meski kadang tak rela

Cintamu seharusnya terlambat

Pada siapa hati kan halal

Tuhan yang tahu.” TKP

 

Soundtrack ini dari film Jangan Buat Aku Berdosa yang kurekomendasikan banget untuk ditonton. Tentang nggak boleh pacaran, pentingnya jilbab syar’i dan mesti mengikhlaskan. TKP

 

3.     3. Menuju Syurga Mu – El Banat

Cerita dalam lirik lagu ini yaitu seseorang yang merasa hampa bila jauh dari Tuhan. Cobaan yang datang di dalam hidup, membuatnya menguatkan hati. Ia juga berharap Tuhan membimbingnya menjadi hamba yang menuju surga-Nya.

“Kubuka lembaran baru, kukuatkan ketaatan

Teriring tobat keinsyafan

Oh Tuhan bimbinglah kami ini menjadi hamba sejati

Menuju syurga Mu.”  TKP

 

Lagu ini dipublikasikan pada tahun 2017 oleh El Banat, yang keempat anggotanya dari SMAIT Jambi. 

 

4.     4. Jangan Salahkan Hijabku – Shohibatussaufa

Seperti judulnya, lirik dalam lagu ini menegaskan untuk jangan menyalahkan hijab seorang Muslimah bila tingkah lakunya salah atau ada perkataan yang menyakiti hati. Muslima ini memakai hijab karena mengikuti perintah Allah dan bukti cinta pada-Nya meskipun, sembari proses belajar untuk mengubah tingkah lakunya menjadi lebih baik. Muslimah bisa saja salah tapi hijab itu nggak pernah salah.

“Jangan, jangan, jangan salahkan hijabku kalau begitu

Aku terus-terus belajar untuk ubah tingkah laku

Berhijab caraku untuk lebih baik

Muslimah terbaik sudah tentulah berhijab.” TKP

 

Mungkin untuk saat ini segitu dulu, insyaAllah kalau ada lagi kutambahkan.