Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2026

24 Pelajaran Hidup di Umur 24 Tahun

Suatu kali, aku pernah membaca blog yang berisi tulisan tentang 24 pelajaran hidup si penulis di umur 24 tahun. Maka, aku pun ingin membuatnya sebelum memasuki umur seperempat abad, insyaAllah.

1. Jika tidak ada yang percaya padamu, percayalah pada dirimu sendiri. Tidak apa-apa, Allah swt akan membantu.

2. Waktu itu cepat habis seperti es batu yang mencair, maka pergunakanlah.

3. Waktu juga seperti kaca yang retak, yang nggak mungkin bisa balik seperti semula. Jadi, seburuk apapun masa lalumu, itu sudah tertinggal jauh ke belakang, melangkahlah ke depan.

4. Yang terpenting menikmati perjalanannya, tujuan itu bonus.

5. Internet seperti senjata bermata dua, kamu bisa memanfaatkannya atau dia memanfaatkanmu.

6. Kamu tidak mungkin disukai semua orang, mereka punya perspektifnya sendiri. Fokus saja ke yang menyukaimu.

7. Makan yang sehat, istirahat yang cukup, hiduplah untuk hari ini, tak perlu risau yang belum terjadi.

8. Perbanyaklah belajar apapun itu, mendengar kajian ustadz, catatlah dengan buku dan pena.

9. Jangan menggantungkan kebahagiaan ke orang lain, bahagia itu kamu yang ciptakan.

10. Sering-seringlah menulis untuk meluangkan pikiranmu.

11. Tidak perlu terpengaruh dengan kata-kata tanpa aksi.

12. Tidak mungkin kita bisa menyenangkan semua orang, selama kamu tidak salah, santai saja.

13. Keluarlah dari rumah, beli sesuatu yang kamu suka, tapi jangan impulsif.

14. Berkaryalah, mungkin belum menghasilkan sesuatu tapi kamu sudah mencoba.

15. Kamu sudah sampai sejauh ini, itu membuktikan kamu bisa.

16. Hadapi rasa takut itu, jangan terus lari darinya.

17. Hargai waktumu, itu bekal untuk masa depanmu. Yang sudah berlalu, biarlah.

18. Sayangi orang yang dekat dengan kita, karena kita nggak pernah tahu kapan waktu itu berakhir.

19. Tidak perlu mengemis cinta, atau waktu seseorang. Mereka yang ingin akan mengusahakannya.

20. Terapkan prinsip minimalis, kamu akan lega nantinya.

21. Belajarlah menerima dirimu, meskipun butuh waktu seumur hidup.

22. Lakukanlah apa yang kamu suka, selagi masih bisa.

23. Sehat itu anugerah Allah, aset jangka panjang, maka jaga dan peliharalah.

24. Kamu itu berharga, percayalah, 9 bulan dalam kandungan ibu. Nggak mungkin kamu diciptakan dengan sia-sia.

Terima kasih sudah membaca <3

Kamis, 30 Juli 2026

Mengenal ATLM, Profesi yang Sering Disalahpahami Masyarakat

Di rumah sakit, klinik, puskesmas atau fasilitas kesehatan lainnya setiap profesi memiliki sebutannya masing-masing. Namun, berbeda dengan profesi yang satu ini.

Lulusan kedokteran disebut dokter, lulusan keperawatan disebut perawat, lulusan kebidanan disebut bidan, sedangkan lulusan farmasi disebut apoteker. Berbeda dengan profesi di laboratorium yang justru jarang dikenal masyarakat. 

Salah satu tenaga kesehatan penunjang ini sering membuat orang awam salah kaprah, seperti: ATLM, dibaca A-Te-El-Em, singkatan dari Ahli Teknologi Laboratorium Medis, dulu namanya Analis Kesehatan diganti untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan teknologi. Jadi lebih keren sih namanya, tapi tetap aja rumit, di dunia nyata sering dipanggil "Orang Lab" suka duka jadi ATLM a.k.a orang lab?

1. Karena Bekerja di Belakang Layar, Jadi Keuntungan buat Tipe Kepribadian Introvert 

Lain halnya dengan Dokter, Perawat, Bidan yang langsung menghadapi pasien setiap hari, tapi ATLM sering tak terlihat karena di belakang layar. Hal itu membuat saya bersyukur, sebagai orang yang introvert.

2. Bekerja Dengan Alat-alat Canggih yang Mahal

Waktu kuliah selalu praktikum dengan alat manual dan sederhana, sekarang sudah otomatis. Bayangkan saja, untuk mengetahui hasil hemoglobin, trombosit, leukosit, dll dari sampel darah pasien menggunakan alat hematology analyzer sudah jadi dalam waktu 2-3 menit.

3. Partner Kerja di IGD

Pada banyak kasus di IGD, sampel darah pasien dapat diambil bersamaan saat pemasangan jalur infus sehingga pasien tidak perlu ditusuk berkali-kali. Selain meminimalkan rasa sakit, hal ini memudahkan kami sebagai ATLM. Kecuali, jika sampel darah pasien tidak bisa ditampung (biasanya karena dehidrasi), kami mengambilnya.

4. Julukan Tidak Tertulis "Vampir Rumah Sakit"

Karena tiap pagi nyampling (pengambilan darah) pasien di ruang rawat inap, pernah ada yang menyebut vampir. Saya sendiri tidak masalah dipanggil itu, yang lebih parah menurut saya dipanggil Perawat, Bidan, bahkan Dokter.

5. Pertanyaan dari Pasien yang Menggelitik

Sewaktu selesai ambil darah pasien, sering ditanya, "Golongan darah saya apa ya? Kapan visit dokter? Kapan saya bisa pulang?" Saya senyum di balik masker dan menjawab, "Ibu, ini tergantung dokter minta apa saja cek labnya, dan golongan darah tidak diminta. Kalau visit dokter dan kapan ibu bisa pulang itu, tolong tanya sama perawat ya karena saya jarang jumpa dokter, saya bagian lab bu." Biasanya, pasien manggut-manggut lalu senyum kecil sambil bergumam, "Oh beda ya.."

6. Ruangan yang Dingin Bikin Serba Salah

Saat tenaga kesehatan lainnya masuk ruangan kami, mereka bilang, "Enak ya, dingin." Padahal, AC itu hanya untuk alat bukan untuk kami. Jadi, dinginnya tuh bisa di luar kapasitas yang diterima suhu tubuh. Terkadang, saya sampai menggigil sambil membayangkan simulasi traveling ke Jepang.

7. Bekerja Harus Super Teliti dan Hati-Hati

Sebagai tenaga kesehatan, kami dituntut untuk selalu teliti dan hati-hati dalam menganalisis sampel pasien, baik itu darah, urine, sputum, dan lain sebagainya. Tidak boleh langsung mengeluarkan hasil yang kritis atau meragukan dari alat, perlu dikonfirmasi sesuai prosedur laboratorium. 

Itulah sedikit suka duka menjadi ATLM, profesi yang sering bekerja di balik layar dan jarang dikenali masyarakat. Padahal, dari sampel ekskresi maupun cairan tubuh pasien, kami dapat menghasilkan informasi yang membantu dokter menegakkan diagnosis suatu penyakit.

Rabu, 05 Maret 2025

Sedang Melakukan Adegan Dewasa: Ziarah Sendirian

Pagi ini, aku berniat ziarah ke kuburan, sendirian ... setelah pulang dari shift malam. Biasanya ziarah dilakukan sehari sebelum bulan ramadan dan saat hari raya idul fitri. Biasanya juga aku pergi ziarah dengan ibuku, tapi kali ini tidak karena beliau tengah sakit, susah buat jalan. Apalagi jalan ke kuburan-kuburan saudara yang dituju, sudah sangat sempit sekali. Seharusnya kemarin sih aku ke sini, tapi cuacanya kurang mendukung. Lagipula, ntar malamnya aku ada shift jadi pengin beberes untuk itu. Mau ajak adik juga dia lagi haid. Yeah, memang ga ada niat sih.

Akhirnya, kesampaian di hari ini. Saat sampai, suasana tampak sepi. Hanya ada satu-dua orang yang ziarah. Dari kejauhan ada ibu-ibu yang menawarkan air berisi taburan bunga. Aku menerima satu ember kecil darinya, tentu saja tidak cukup. Aku berinisiatif mengambil serupa satunya lagi. Saat aku sudah di kuburan yang dituju, datang beberapa orang buat membantuku membersihkan kuburan. Seorang pria, wanita, dan anak laki-laki. Mereka dengan sigap membersihkan kuburan-kuburan yang berjumlah enam itu. Menyingkirkan dedaunan kering, tumbuhan belukar, bahkan banyak ranting kayu yang menimpa sebuah kuburan. Seorang wanita dengan anak laki-laki itu keluar dari perkarangan kuburan, anak laki-laki itu bahkan bilang ke aku, "Kak, sebentar ya." Aku hanya mengangguk. Seorang pria yang tadi bilang ke aku, "Mereka kemana?" Aku hanya menjawab, "Nggak tahu."

Beberapa saat kemudian, mereka, wanita dan anak laki-laki itu kembali membawa dua ember berisi air bunga. Aku tanya ke wanita itu, "Kak ini berapa?" "10.000. Agak besar kan embernya." Jawabnya. Kuperhatikan memang benar sih. Terus datang dua anak kecil perempuan saat kuburannya sudah bersih tapi dia tetap masih kayak pengin bantu bersihkan juga. Jadi, dia hanya menyingkirkan sisa dedaunan kecil dan kering itu. Aku memberi uang sebagai balas budi karena bantuan mereka. Di sini aku bingung, juga sudah lupa, memberinya saat sebelum atau sesudah aku menyiram air bunganya ke kuburan ya(?) Intinya, setelah aku kasih ke mereka. Seorang pria dan wanita itu mempertanyakan, kenapa dua anak kecil perempuan yang baru datang itu juga kukasih. Aku tahu niat mereka baik, jujur dan adil. Kata mereka, aku kayak kebanyakan kasih ke dua anak kecil perempuan itu. Ah, aku tahu itu. Tapi aku kayak ga enak kalau ga kasih apa-apa ke mereka, kalau mereka pulang dengan tangan kosong. Meski itu bukan kewajibanku buat menyenangkan mereka, meski aku bisa ga memberi apa-apa ke mereka dengan berkata yang baik-baik. Sampai akhirnya aku sadar kalau uangku makin sedikit. Kalau soal uang, aku ga kekurangan, alhamdulillah tapi ga berlebihan juga. Aku sendiri masih perlu menabung untuk mencukupi kebutuhanku. Penghasilanku dari pekerjaan dan masih dikasih uang jajan dari bapak.

Kata mereka ga boleh kayak gitu, aku menyetujuinya. Lalu, aku berdo'a. Tidak banyak, hanya alfatihah dan tiga kul. Sebenarnya mau baca surat yasin, tapi keburu hujan. Wanita tadi juga mengingatkanku soal cuaca yang tiba-tiba tidak bersahabat. Aku membayar air bunga dalam dua ember kecil punya ibu tadi. Tapi katanya satu Rp.10.000 padahal embernya kecil tapi salahku juga sih yang ga nanya dulu harganya.

Dalam perjalanan pulang, aku mikir. Ah, baru ziarah doang sudah habis uang Rp.80.000 hehe. Ya sudah jadi pelajaran saja buatku, mesti berhati-hati lagi saat akan mengeluarkan uang. Seharusnya, sekitar Rp.50.000 saja. Ya sudah, anggap saja sedekah ke mereka. Yang penting, niat baikku buat berziarah sudah terlaksana meski ada yang ga sesuai ekspektasi. Oh ya, sembari menyiram air bunga pada kuburan-kuburan tadi sebanyak tiga kali dalam hati berdo'a juga. 

أَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا المَاءَ بَرْدًا وَسَلَامًا فِي قَبْرِهِهَا وَاسْقِ تَرَاهُ / هَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Artinya: "Ya Allah jadikanlah air ini sebagai pendingin dan keselamatan di dalam kuburnya dan tuangkanlah rahmat di dalam kuburnya dengan rahmatMu wahai Yang Pengasih dari Yang Pengasih."

Dan saat memasuki kuburan tadi juga tak lupa berdo'a. 

Abu Hurairah RA berkata, "Rasulullah jika berjalan melalui pemakaman, beliau mengucapkan,

السَّلامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ كَانَ رَسُولُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالصَّالِحَاتِ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحِقُوْنَ

Artinya: "Semoga kesejahteraan dilimpahkan atas kamu, hai para ahli kubur yang beriman laki-laki dan wanita, yang Islam laki-laki dan wanita, dan yang saleh laki-laki dan wanita. Sesungguhnya kami jika dikehendaki oleh Allah akan menyusul kamu."

Sabtu, 08 Februari 2025

100 Tanda Kamu Sudah Dewasa

1. Baju-bajumu sudah kekecilan

2. Kamu masak-masakan buat benaran dimakan bukan main-main

3. Kamu terpikir belajar make up

4. Keponakan atau adik sepupumu sudah tumbuh besar

5. Kartu gambar sudah kecil di genggamanmu

6. Kamu capek tapi yang penting tugasmu selesai

7. Uang jajanmu bertambah atau ga punya uang jajan sama sekali

8. Kamu ga jajan sembarangan lagi karena berpikir tentang kesehatan

9. Kamu ingin belajar bahasa asing untuk jangka panjang

10. Orangtuamu makin menua

11. Kamu mulai berpikir tentang masa depan

12. Kamu lebih suka berjalan kaki kalau memungkinkan

13. Kamu ga peduli tentang anggapan orang pada dirimu

14. Kamu melakukan apa yang kamu suka dengan sungguh-sungguh

15. Kamu benci gosip

16. Kamu punya banyak hobi

17. Kamu ingin menguasai skill tertentu seperti merajut atau menyulam

18. Terkadang kamu merasa kesepian di malam hari atau di tengah keramaian

19. Kamu berpikir mungkin suatu saat hari ini akan menjadi momen penting

20. Kamu bertanya-tanya apakah selama ini kamu sudah menjadi sebaik-baiknya manfaat

21. Kamu menyesali yang sudah terjadi tapi kamu bersyukur punya hari ini untuk diperbaiki

22. Kamu butuh banyak nasehat

23. Kamu tahu orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anaknya

24. Kamu merasa menangis terkadang tidak menyelesaikan apa-apa

25. Kamu merasa kurang ilmu dan perlu belajar

26. Kamu harus banyak membaca

27. Kamu lebih suka menjadi pengamat

28. Kamu harus membantu orang yang membutuhkan

29. Kamu khawatir tentang orang yang kamu sayangi terluka

30. Kamu ga masalah punya sedikit teman

31. Kamu belajar untuk terus percaya diri

32. Tanpa diduga, terkadang kamu bisa menjadi lebih berani

33. Kamu berpikir ga ada gunanya memaki

34. Kamu harus sering minum air putih

35. Kamu harus makan buah dan sayur

36. Kamu ga putus asa tentang pasangan

37. Kamu berpikir tentang cita

38. Perlahan kamu mendapatkan barang yang kamu mau setelah sabar menunggu

39. Orang tua tidak lagi memarahimu

40. Kamu punya keputusan sendiri

41. Kamu memanggil anak kecil dan senang saat mereka me-noticemu

42. Kamu sangat suka kucing dan terhibur karena tingkahnya

43. Kamu suka basah karena air hujan

44. Suara hujan menenangkanmu

45. Kamu menyukai membaca Al-Qur'an dan terjemahannya

46. Kamu merasa sudah banyak meninggalkan masa lalu

47. Kamu ingin memeluk dirimu di masa lalu dan orang-orang yang kamu cintai

48. Kamu ga menghakimi sembarangan orang

49. Kamu ingin mengetahui apa yang orang-orang pikirkan dan rasakan

50. Kamu ingin punya banyak karya setelah sering jadi penikmat

51. Terkadang kamu lebih banyak diam

52. Terkadang juga kamu harus lebih berbicara

53. Kamu tidak mau menambah jumlah angka pengangguran

54. Kamu menyapa orang yang belum pernah kamu kenal

55. Kamu berbincang kecil dengan orang yang kamu kamu temui

56. Kamu mencoba berempati dengan siapapun itu, baik manusia maupun hewan

57. Kamu mulai menekuni hobimu

58. Kamu bermain permainan yang kamu mainkan dulu tapi momennya sudah beda

59. Kamu lebih memperhatikan tentang penampilan karena itu menguntungkan

60. Buku adalah teman baikmu

61. Kamu berencana ingin liburan tapi tidak ada dana

62. Kamu ingin banyak belajar apapun itu

63. Kamu mencari komunitas kajian untuk akhirat

64. Kamu punya beberapa teman online dan sering larut obrolan dengan mereka

65. Kamu mencoba glow up

66. Kamu pengin pakai behel untuk punya senyum yang indah

67. Kamu bisa beli barang yang waktu kecil nggak bisa dibeli

68. Kamu bisa memberi orang tuamu hadiah dengan uang hasil tabungan dan gajimu

69. Kamu membawa oleh-oleh selepas pulang dari pekerjaan

70. Kamu sering kemana-mana sendirian

71. Kamu menyadari people come, people go

72. Kamu harus banyak melakukan perubahan dan sekeras itu mengusahakannya

73. Teman-temanmu perlahan menghilang karena fokus dengan hidup mereka masing-masing

74. Kamu lebih banyak mendengarkan

75. Terkadang kamu lebih memilih pakai topeng, tidak apa-apa untuk berpura-pura baik-baik saja 

76. Terkadang, kamu suka melamun

77. Kamu baru menyadari gaji di dunia orang dewasa itu jujur aja ga seberapa, tapi kamu bersyukur punya pekerjaan

78. Kamu berpikir mencari sampingan untuk menambah penghasilan

79. Kamu belanja dengan mempertimbangkan kebutuhan daripada keinginan

80. Kamu menyadari, semua orang ada masanya dan semua masa ada orangnya

81. Kamu tidak suka berdebat hal yang tidak perlu

82. Kamu hanya mengiyakan saja dengan kata-kata petinggi yang ga bisa dibantah

83. Kamu berpikir fokus pendidikan, karir atau cinta

84. Kamu merasa sudah tidak punya banyak waktu untuk bermain seperti saat masih sekolah dulu, bahkan kamu tidak bisa membelinya

85. Kamu ingin bertemu dengan orang yang serius untuk berkomitmen

86. Kamu menjadi lebih reflektif

87. Kamu tidak membutuhkan validasi orang lain

88. Kamu suka menganalisis karakter manusia untuk mencoba memahami meskipun kompleks

89. Kamu mempertanyakan segala hal karena kamu menyadari semua ada alasannya

90. Terkadang, kamu jadi overthinking 

91. Terkadang, kamu ingin pergi ke tempat yang asing tanpa dikenali siapa-siapa

92. Kamu mengalami kegagalan tapi menganggapnya sebagai batu loncatan

93. Kamu menyadari, dirimu bukan siapa-siapa

94. Kamu suka menghabiskan waktu dengan orang yang lebih tua, banyak yang bisa dipelajari dari kisah mereka

95. Kamu mendapat masalah dan mengambil pelajarannya 

96. Kamu suka membuat jurnal

97. Kamu suka mengabadikan momen, entah itu dengan kamera atau tulisan karena suatu saat semua akan menjadi kenangan

98. Kamu mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian

99. Kamu menyadari tidak bisa menyenangkan semua orang

100. Kamu berterima kasih untuk dirimu sendiri karena sudah bertahan sejauh ini.

Minggu, 18 Februari 2024

Cerita Pengalaman Saat Sidang KTI

Bismillah … Sidang KTI (Karya Tulis Ilmiah) itu pada 19 Mei 2023, kurang dari tiga bulan setelah aku seminar proposalnya. Entah takdir atau bagaimana, hari saat sidang KTI itu sama seperti sempro yaitu Jum’at. Namun, jujur di antara kumpulan hari aku memang menyukai Jum’at karena banyak berkahnya dalam Islam. Aku sangat berharap pada-Nya, di hari Jum’at yang berkah bisa membawa kegiatan pentingku berjalan dengan lancar. Kegiatan itu entah kenapa juga berdekatan dengan kegiatan lain yang tidak kalah pentingnya. Seperti waktu itu setelah sempro, Sabtu malamnya ada kegiatan SURAU (Silaturahmi Aneuk Asrama IPAU). Ahad pagi, kami juga mengadakan acaranya di Pantai Lampuuk. Aku ada di sana sampai setengah hari sebelum pamit bersama dua teman seperkuliahan untuk pulang ke Asrama. Besoknya, kami harus ada di Lhokseumawe untuk mata kuliah PPKM. Bukan singkatan dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat karena itu sudah dicabut Presiden saat Desember 2022, tapi ini Praktik Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. Sabtu nantinya juga setelah aku sidang KTI, dari Banda Aceh harus ke Medan untuk mata kuliah PKL (Praktik Kerja Lapangan) di Rumah Sakit.

Data penelitian sudah kulakukan dari Februari. Seperti pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, sembari PPKM di Puskesmas, aku juga melakukan penelitian di sana. Hal itu karena ide Dosen Pembimbing yang baik hati, beliau menyarankan tempat penelitianku di Puskesmas itu. Memang proposal penelitianku di Lhokseumawe, tapi bukan di Puskesmas melainkan di salah satu desa. Namun, sekarang jadi dipermudah, aku merasa bersyukur. Penelitian juga tanpa mengeluarkan biaya karena menggunakan fasilitas Puskesmas dan dilakukan selama kami PPKM yaitu dua pekan.

Jujur judulku sangat mudah, karena aku sangat menyadari kalau bukan orang yang pintar-pintar amat. Sering aku merasa tidak percaya diri saat ditanya apa judulku, selalu bilang juga ‘Judulku mudah’. Sama sekali tidak ada niat untuk sombong karena seperti kata kakak sepupu “Untuk apa sombong, apa pula yang disombongkan”. Menurutku juga, yang penting aku suka dengan mata kuliah: Kimia Klinik terkait penelitiannya. Aku pernah dengar kalimat, "Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Skripsi juga nggak akan mengubah dunia, ya setidaknya sampai sejauh itu. Lalu, akan berakhir lama di Perpustakaan." Teman KKL (Kuliah Kerja Lapangan) program studi Keperawatan yang pertama kali kukenal saat bulan Maret juga bilang judulku mudah. Dia bilang, judul yang ia punya juga mudah karena tentang ‘Jiwa’ atau bisa dibilang bagian dari Psikologi karena memang banyak diminati mahasiswa di prodinya. Aku setuju dengannya karena berpikir kalau di prodiku juga banyak mahasiswa yang nilainya tinggi  dan sangat pintar tapi mengambil judul yang mudah. Aku nggak tahu alasannya, mungkin karena mau praktis saja ya sepertiku, tapi ada juga mereka yang mengambil judulnya susah. Susah karena penelitiannya membutuhkan banyak prosedur, waktu dan biaya untuk dilakukan. Salut kepada penelitian mereka, belum tentu aku bisa mengerti dan melakukan itu meskipun kami seprodi.

Aku banyak dibimbing oleh Dosen pada bulan April, tepatnya pada bulan Ramadhan. Di saat banyak Muslim dan Muslimah lainnya fokus beribadah aku selalu berkutat pada laptop. Hal yang paling kusukai saat itu adalah Shalat Tarawih di Masjid. Kapan lagi perempuan khususnya aku bisa shalat berjamaah di Masjid selain saat bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri serta Adha. Soalnya seperti hadits, perempuan baiknya shalat di rumah. Jujur, di Masjid aku merasa sangat tenang dan damai, aku tidak perlu memikirkan tentang dunia selama di sana. Aku bersyukur, letak Asrama dekat dengan Masjid sehingga aku bebas berjalan kaki dari qabla Isya sampai ba’da tarawihnya pukul 10 malam karena 20 rakaat. Meski, kata Ustadz shalat ba’diyah Isya lebih besar pahalanya daripada tarawih.

Kata temanku, sebenarnya kalau lebih berusaha lagi aku bisa sidang KTI di bulan April karena memang penelitian sudah siap dan tidak banyak revisi lagi, meskipun setelah sidang kemudian catatan saran terisi penuh. Mereka yang sidang KTI saat Ramadhan memang bagus karena bisa selesai sebuah tanggung jawab, bahkan saat lebaran nanti tidak ada beban pikiran. Aku sendiri memang tidak ingin terburu-buru tapi punya target harus bisa sidang KTI sebelum PKL di luar kota dan syukur Alhamdulillah tercapai.

Hari itu, berakhir pula kami PKL selama tiga pekan di RS : Kelas A Pendidikan, hari yang sama aku sidang KTI. Sebelumnya, seorang teman yang dosen pembimbingnya sama denganku juga ingin daftar sidang saat hari di mana jadwal aku sidang KTI. Aku nggak keberatan kalau sidangku dipercepat satu jam supaya dia bisa setelahku tapi sepertinya Dosen Pembimbing ada yang tidak bisa. Aku hoki karena lebih dulu daftar, rupanya ada yang tidak mendapatkan ksesempatan sama. Sepertinya, saat itu ada antara empat atau lima orang yang akan sidang KTI.

Aku minta izin kepada kakak petugas Laboratorium karena mengikuti PKL-nya sampai jam 12 siang atau sebelum shalat Jum’at yang biasanya selesai ba'da Ashar karena akan sidang KTI jam 3 siang nanti, mereka mempersilahkan. Kakak petugas Lab juga terus mengingatkan ‘Sudah jam berapa?’ supaya tidak lupa atau ketinggalan akan jadwal sidang KTI-nya. Mereka juga berpikir kayak ‘Sempat-sempatnya’ mengingat besok lusa kami juga sudah berada di Medan.

Sesampainya di Kampus, tiba-tiba saja aku disambut sebuah peluk dari seorang teman yang selesai sidang KTI jam 9 pagi tadi. Jujur, aku agak canggung juga karena tidak terbiasa terlebih merasa tidak dekat sekali dengannya tapi juga tetap membalas pelukannya. Kupikir setelahnya ,ternyata pelukan itu menyenangkan. :> Dia terlihat sangat bahagia dan lega, aku juga bilang ‘Selamat’ kepadanya dan ia menyemangatiku.

Aku tidak sendiri saat itu karena ada dua teman lainnya juga sidang di jam yang sebelum dan sama denganku tapi beda ruang. Kami saling membantu dari mulai menyiapkan laptop dan proyektor. Hingga tibalah saat sidang KTI-ku berjalan satu jam juga seperti sempro. Aku tahu tidak berjalan dengan lebih baik dari sempro sebelumnya. Ada bagian di mana aku disuruh para Dosen Penguji yang dua di antaranya Pembimbingku, untuk keluar sebentar dari ruang sidang karena mereka mau kompromi apakah bisa meluluskanku atau tidak. Setelah keluar, aku melihat seorang teman selesai sidang karena dia mulainya jam 2 siang tadi. “Nggak apa-apa itu, aku juga tadi disuruh keluar.” Katanya, menenangiku. Setelah itu, aku pun kembali masuk ke ruang sidang setelah dipanggil Dosen. Dalam hati, “Rasanya tidak ingin lagi masuk.’

Syukur Alhamdulillah, aku ‘Lulus’ kata Dosen Penguji, meskipun seperti yang telah kupikirkan nilainya lebih berkurang dari saat sempro tapi juga masih A. Tidak lupa, meminta temanku yang tadi di luar untuk dokumentasi Dosen memakaikan selempang untukku dan kami pun berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

Sebenarnya, aku tidak ingin membesar-besarkan hari itu, karena aku menganggap untuk menyelesaikan salah satu mata kuliah saja. Namun, teman dekatku di Asrama sekaligus sekelas juga memberi hadiah dan aku tidak pernah berekspektasi itu. Teman-teman asrama juga datang ke kampus untuk merayakanku setelah sidang KTI. Memang, sebelumnya karena teman dekatku berkata, “Kamu nggak bilang tiba-tiba besok sidang KTI-nya, itu pun aku tahu dari grup angkatan. Kamu juga nggak undang teman asrama? Sombong, lah.” Aku berpikir, ‘Masa sih sombong?’ Tapi, akhirnya aku kirim juga undangan lewat chat WhatApp ke teman asrama yang sering berinteraksi saja denganku karena malu kirim ke kakak senior. Aku merasa sidang yang akan kulakukan nggak sesempurna itu. Teman dekatku membalas chat, “Akhirnya, dapat juga undangan meskipun tengah malam.” Beserta emoji tertawa. “Karenamu ini.” Balasku. Bahkan, ada yang tiba-tiba menghampiriku yang tengah duduk di Sofa. “Hah, kamu besok sidang ya?!” Katanya. “Iya.” Jawabku, pendek. Terkadang aku berpikir, ‘Mungkin, apa karena aku tidak seheboh mereka ya saat sebelum sidang?’

“Terima kasih ya, karena sudah mau datang. Pakai bawa hadiah segala, jadi terharu.” Kataku kepada teman asrama. “Kan kita merantau, sama-sama di Asrama. Orang tua nggak mungkin datang ke sini, jadi merayakannya bersama teman.” Jawabnya. Tidak lupa kami juga mengambil foto. “Kalau kamu nggak bilang soal ‘undangan’ aku nggak dapat hadiah dan foto kenangan seperti ini.” Kataku kepada teman dekat, dia tersenyum kemenangan.



Sabtu, 18 November 2023

Selamat Sempro (Seminar Proposal)

Bismillah, aku mau cerita pengalaman kebahagiaan yang takkan pernah kulupakan. Waktu itu, Jum’at tanggal 03 Februari 2023. Di hari yang berkah dalam islam itu, aku baru tahu ‘Oh jadi seperti ini ya rasanya sempro’, fase yang wajib dilakukan mahasiswa semester akhir pada umumnya. Hari-hari sebelumnya, aku sudah memberitahu ibu buat minta do’a beliau semoga semua dilancarkan dan mendapat nilai yang bagus. Siang itu, seorang teman memintaku untuk membantunya menyiapkan peralatan dan menemaninya saat seminar, aku pun menyanggupinya. Sorenya, setelah berfoto bareng, lalu teringat kalau belum makan siang maka kami berempat pun memesan nasi dengan lauk ayam geprek yang sambalnya sangat enak, Alhamdulillah. Malamnya, aku menemani sahib ke tempat print yang biayanya paling terjangkau untuk mencetak tiga-empat rangkap proposal KTI (karya tulis ilmiah)-nya sebagai tugas akhir mahasiswa diploma tiga (D3).

Ternyata, mencetak banyak lembaran itu menghabiskan banyak waktu dikarenakan kesalahan print atau apalah itu, perhitungan kami kalau akan selesai sebelum jam 10 malam meleset. Akupun menelpon sahib lainnya di asrama, mengatakan aku ga pulang malam ini dan memintanya untuk memasukkan seragam dan jilbabku ke tote bag yang biasa kupakai ke kampus. Tak lupa dengan beberapa rangkap lembaran proposal KTI-ku. Semua itu diletakkan di depan pagar karena jam 10 malam asrama sudah ditutup. Akhirnya, lewat jam 10 malam kami baru selesai print. Sahib yang di asrama menelpon dan menanyakan di mana keberadaan kami. ‘Cepat, nanti barangmu takut diambil orang.’ katanya. (Mungkin maksudnya karena terdapat beberapa botol air mineral dan minuman sari buah). Dalam hati aku menertawakan, ‘Siapalah yang mau mengambil, kan tidak seberapa itu.” Meskipun begitu aku mengiyakannya.

Aku menginap di rumah sahib, terdapat cermin besar di sana. Aku latihan sendiri untuk besok, melihat bagaimana cara bicaraku di depan cermin dan merekam suara. Beberapa hari sebelumnya aku sudah menandai bagian yang penting di lembaran proposal KTI-ku. Menulis di sticky note dan menempelnya di halaman cover depan. Berusaha berpikir kalau seminar proposal tidak sesulit itu, aku sudah belajar sebelumnya, memperkirakan pertanyaan para dosen penguji dan mengetahui jawabannya. Sahib tetangga kamar asrama juga sudah memberitahu do’a memohon kemudahan اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً yang artinya “Ya Allah, tidak ada yang mudah kecuali apa yang Engkau mudahkan, dan Engkau menciptakan kesedihan ketika Engkau berkehendak mudah.” belakangan aku baru tahu kalau itu hadist nabi dan shahih Ibnu Hibban. Juga mengulang-ulangi do’a nabi Musa رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي berarti “Ya Tuhanku, lapangkanlah bagiku dadaku, dan mudahkan bagiku segala urusanku dan lancarkanlah lidahku, supaya mereka memahami kata-kataku.” (Surah Taha: ayat 25-28).

Esoknya setelah menunaikan shalat subuh, aku pun bersiap-siap meski baru memesan kue dengan panggilan telepon yang yang syukur tersedia. Bertanya ke sahib perihal bedak yang ternyata kebetulan habis, hanya ada lip tint. Pagi itu, aku meminjam barang kepunyaan sahib semua, mulai dari almamater yang ukurannya pas, sepatu ukuran kecil yang kupaksa pakai tapi masih agak nyaman juga helm. Ya, aku terlupa semua itu. Pagi itu, aku pun baru membeli bedak bayi ukuran mini, buru-buru men-starter motor untuk mengambil kue pesanan meski ada drama salah masuk jalan untuk ke tokonya sebentar. Setelah itu langsung ke kampus. Aku lega, kulihat seorang teman masih di dalam ruangan seminar jadi aku masih menunggu giliran. Sahib menyusul.

Sampai akhirnya temanku itu selesai, raut mukanya tampak lega dan bahagia. Aku meminjam laptopnya karena ga bawa laptopku yang tidak bisa tersambung dengan kabel infocus milik kampus, syukur dikasih. Penumpang kapalku hanya dua orang, setidaknya aku merasa tidak sendiri, itu lebih dari cukup daripada ramai. Bismillah, aku memulai seminar.

Para dosen penguji tidak menyangka karena suaraku seperti volume full padahal biasanya rendah, ternyata itu menjadi nilai plus. Syukurlah, aku telah mengetahui ini dari situs Quora. Dosen penguji memberi saran mengganti judul sedikit malah mempermudah rencana penelitianku setelah sesi tanya jawab, tentu saja aku menerimanya dengan senang hati. Dosen-dosen itu pun memberi ucapan selamat karena aku lulus sempro. Setelah menyalami para dosen maka selesailah sempro hari itu. Teman-teman mengucapkan selamat.

Beberapa saat kemudian, ada chat WhatsApp yang masuk pada pukul setengah 11 siang dari sahib asrama menanyakan, ‘Apakah aku sudah siap sempronya?’ yang kubalas, ‘Sudah. Alhamdulillah.’ Dia pun menyuruhku untuk cepat pulang yang rupanya untuk mengajak berfoto. Tentu saja aku tidak tertarik. Aku memang tidak ingin seperti memperbesar-besarkan sempro, bukannya lebih penting itu setelah sidang skripsi/KTI? Menurutku, sempro bukan apa-apa karena belum penelitian. Aku merasa, ‘Apa orang kita terlalu banyak merayakan?’ Jadi berujung banyak habis duit kan, apalagi beli hadiah buat teman setelah sempronya. ‘Mending ditabung, buat persiapan penelitian.’ pikirku.  Aku jadi ingat teman yang bilang, ‘Kamu ga mau foto samaku?’ setelah sempronya. Aku memang ga tertarik foto di momen sempro saat itu, kubalas, ‘Nanti saja, pas kamu sidang.’ yang ga juga kulakukan karena ga sempat aku ada urusan lain, lagipula aku ga sepercaya diri itu.

Aku bilang ke sahib asrama, ‘Sore saja fotonya.’ Dan tentu saja diprotesnya. ‘Aku ga sempat foto bareng dosen penguji (seperti kebanyakan teman lain dan menginginkannya juga, tapi syukur sudah pas sidang KTI kemudian). Oh, aku tadi pinjam laptop teman, mau balikin chargernya ketinggalan dan di ruang seminar ada teman yang lain lagi sempro.’ Saat itu sudah pukul 11 siang. Beberapa menit kemudian, setelah aku mengembalikan charger laptop ke pemiliknya, sahib yang rumahnya aku tempati semalam meminta buat menemaninya menyiapkan berkas beasiswa, lalu mengajakku makan siang di rumahnya entah karena kakaknya sahib yang mentraktir makanya aku merasa ga enak (ga baik sering ga enakan). Terpikir, aku pengin menghadiri kajian ke kampus utama sebelum jam 12 siang tapi ga jadi karena baru ingat lupa bawa helm.

Jam 1 siang lewat aku baru tahu ada chat lagi, rupanya masih sahib asrama asyik menyuruhku pulang. Rupanya, aku sudah ditunggu lama mereka dari tadi, ‘Ya Allah, kenapa aku baru sadar!?’  Aku pun pamit ke sahib dan kakaknya, di perjalanan melewati jajanan bakso goreng dan memutuskan untuk membelinya. Sesampainya di asrama, ternyata sahib-sahib asrama sudah berpakaian rapi di luar dugaanku mereka yang masih memakai baju rumahan. Aku menawarkan jajanan itu mereka terlihat excited, berarti juga belum makan siang. Ternyata, mereka memberiku dua kotak kue donat. Aku merasa sangat terharu sekaligus bersalah. Tidak menyangka, ternyata mereka begitu peduli. Padahal saat sahib asrama itu sempro, aku ga memberi hadiah apapun.

Setelah shalat zhuhur, sahib menyuruhku untuk bersiap-siap. Mereka terniat sampai pinjam buket bunga kepunyaan kakak asrama segala. Akhirnya, hari itu aku baru punya foto estetik yang pernah ada. Sahib asrama pun me-mostingnya di story Instagram.

Ah, jazakillah khairan (semoga Allah membalas kebaikanmu) ya sahib (teman yang peduli dan perhatian kepada kita). Sungguh, aku ga pernah ekspektasi apa-apa di hari sempro, nothing special. Tapi mereka sudah kasih kejutan itu, aku sungguh ga menyangka. Padahal, aku merasa ga dekat-dekat sekali sama kamu tapi kamu pun mengakuinya. Tapi mereka sudah melakukan ini, hal yang sangat berarti. Mengapresiasi momenku dengan cara mereka. Sungguh, terima kasih banyak semuanya, khususnya Mutia, Indah, Nadia ;’) dan Lutfia yang estetik semoga persahabatan kita semua till Jannah.

Senin, 31 Januari 2022

Ulasan Asri Ipau

Suasana asrama

Note: sebelumnya saya menuliskan ini bukan karena ingin menggambarkan bagaimana lingkungan sekitar asramanya dengan kata-kata yang klise seperti: bersih, rapi dan indah 🏡. Tapi, di sini ingin bercerita tentang pengalamanku. Kalau anda ingin tau asramanya bagaimana, silakan berkunjung dan memperhatikan sendiri.

Bismillah ... November 2020 kala itu, pertama kalinya saya berada di ibukota provinsi Aceh ini. Kali pertama itu pula menjejakkan kaki di asrama tempat kita tercinta ini. Mulanya, nggak pernah terbayangkan bisa tinggal di sini. Tempat yang mulanya asing dengan orang-orang yang belum pernah kutemui sebelumnya, kecuali teman-teman seperjuangan semasa sekolah dulu. Sepintas ingatan, waktu itu sempat merasa nggak betah dan nggak sesuai, tapi percayalah, mungkin hanya karena baru beradaptasi dan belum terbiasa.

Sampai akhirnya, di sini lah kami sekarang, merantau dari kabupaten Aceh Utara, menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, menduduki bangku perkuliahan, demi meraih masa depan secerah sinar mentari. Meninggalkan kampung halaman masa kecil, rumah yang aman dan nyaman, keluarga yang damai, dengan membawa bekal do'a dan kepercayaan orang tua, juga tanggung jawab di tangan kami.

Mungkin beberapa di antara kami yang jika bisa memilih, kami tidak ingin memilih asrama ini. Sebab, kami di sini karena berasal dari keluarga yang berkekurangan ekonomi. Di samping itu banyak peraturan dan organisasi yang mesti dipatuhi, seakan merebut kebebasan serta menambah tugas di luar perkuliahan. Belum lagi tinggal bersama warga asrama dengan berbagai karakter, pemikiran, dan latar belakang yang berbeda tidak mungkin akan selalu menghadirkan suasana yang rukun. Ibarat dua sisi mata uang, tak jarang terkadang terjadi perselisihan, yang bermula kesalahpahaman. Tapi, yang terpenting dari itu adalah saling memahami, mendengarkan dan merangkul perbedaan.

Takdir-Nya tidak mungkin salah. Semua pasti ada alasan dan hikmah dibaliknya. Kenapa kita ada di sini, bertemu dengan orang-orang ini, yang suatu saat cepat atau lambat kita akan mengetahui itu. Saat menjalani peran mahasiswa sekaligus warga asrama dengan bidangnya juga seringkali merasa nggak bisa juga nggak mampu tapi sebelum mencoba, kita tahu apa sih. Karena ... jika syarat berpengalaman sebagai kemampuan dasar untuk seseorang, bagaimana mungkin seseorang bisa dikatakan mampu tanpa mencoba mengalami itu sendiri. Pada akhirnya, bisa atau tidaknya hanya diri kita yang tahu itu.

Intinya, alhamdulillah dengan adanya asrama ini, kelak menjadi salah satu bukti jalan mengikuti pembelajaran, menuntut ilmu dengan tujuan mengharap rahmat-Nya. Berdiri di kaki sendiri, lebih berani mengambil tindakan dan menemukan jalan keluar tanpa bergantung pada orang lain. Tanpa disadari menjadi pribadi yang mandiri, lebih baik dari sebelumnya. Bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik, teman-teman yang peduli, mengingatkan, dan menyenangkan. Tanpa mereka tidak membuatku percaya bisa melalui kehidupan sendiri. Karena setelah hablumminallah, hablumminannas, kita makhluk sosial yang sangat membutuhkan orang lain. Saling bercerita pengalaman dalam hidup, mengetahui pengetahuan baru yang mungkin takkan pernah kuketahui kalau sebelumnya tak menetap di sini.

Di kemudian hari, kita akan mengingat hari ini. Mungkin ada sedikit rasa rindu, tertawa mengingat hal yang menggelikan, bersedih mengenang hal yang mengharukan saat itu. InsyaAllah harapnya menjadi perempuan yang luar biasa, sebagai hasil dari rasa ikhlas dan tetap beranjak.

Bunga
31-01-2022

Apakah kamu juga punya pengalaman tinggal di asrama? Bagaimana kesanmu?

Selasa, 08 September 2020

Hari-hari Prakerin di Lab

Hai guys, btw sebelumnya aku udah pernah cerita tentang pengalaman hari pertama prakerin di Lab. Kali ini tentang Hari-hari di Prakerin. Ku mulai ya.

Waktu itu, jujur yang kurasakan sangat senang tapi ga heran juga ada rasa takut. Aku senang bisa punya pengalaman yang kuyakin ga semua orang punya. Aku bisa membantu melakukan pemeriksaan di Lab. Juga ketemu orang-orang baru yang baik hati. Suasana baru yang beda.

Saat untuk pertama kali aku melihat pasien dan keluarganya, kuharapkan kesembuhan mereka pada Tuhan. Ada pasien yang tabah, histeris, juga yang hanya pasrah. Aku senang di ruang VK (verlos camer) saat kulihat bayi-bayi mungil yang tengah di kotak inkubator. Wajah tak berdosa, kulit selembut kapas. Rasanya ga tega saat melihat mereka akan diambil darahnya namun mau bagaimana itu perlu atas form permintaan dari Dokter.

Bayi-bayi itu saat yang satu menangis, semua ikutan. Pernah kuliat seorang bayi yang masih sekecil ini aja udah ganteng. Masya Allah, nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan dik. Saat kulihat bayi-bayi itu aku berpikir, 'Pasti ibumu wanita terbahagia di dunia, melihat kau sehat saja, sudah senang kepayang ia.'

Lalu, aku ke ruang ICU. Tatapan-tatapan itu. Pasien dengan mata terpejamnya, disamping seorang anak yang tak henti-hentinya melatunkan surah Yasin. Dan kami mengunjungi seorang nenek, yang kulitnya sudah tipis, tubuhnya mulai rapuh. Lebih dari setengah abad beliau di dunia ini. Sangat banyak pengalaman dan amalnya. Dan sekarang tengah berjuang untuk bertahan hidup.

Di sana juga ada seorang ibu yang barangkali meminta izin untuk bisa masuk ke ruang pasien. Menjaja kue dan makanan kepada keluarga pasien dan petugas medis. Ia melakukan itu semata-mata karena keluarganya, demi mengais rezeki.

Lalu, aku ketemu kakak-kakak baik yang mau mengajari kami. Memang ada yang tegas, ada juga yang lembut. Beliau-beliau mengajarkan kami sampe paham.

Dan saat menjelang malam, pernah terdengar rumor kursi roda berjalan yang cukup membuat bergidik. Dan di malam yang lain, ada perawat yang tengah berulangtahun menawarkanku traktiran makanannya. Lalu di malam itu juga aku menonton mv Billie, padahal sebelumnya ga pernah tertarik dengan YT, karna boros kuota:v

Saat ketemu kakak yang entah kenapa beliau mengertiku, apa aku mudah ditebak? Tapi beliau sangat mendukungku, mau mencarikan solusinya. Juga membantu mencarikan materi untuk laporan kami. Entah segimana baiknya.

Lantas, bagaimana aku bisa lupa semua itu? Itu sangat penting untukku. Aku udah pernah berada di dunia itu. Tidak bisakah berjuang lebih keras lagi? 

Oh iya, aku lupa menceritakan hal yang pernah berkesan. Kebetulan waktu itu di awal April. Aku sedang kalut saat itu. Mungkin karena sifatku yang baper. Kebetulan hari hujan, saat itu deras banget dari pagi sampai menjelang sore. Bisa dibayangkan betapa basahnya kota kecil yang kami tempati ini. Tapi ada seseorang iseng, kalau kamu bilang itu kebetulan kurasa itu takdir. Dia orang yang jarang kupikirkan. Tapi melakukan suatu hal yang berarti untukku.

Mungkin kamu udah lupa, tapi aku selalu ingat itu. Makasih ya udah mengirim pesan begitu. Aku begitu terhibur. Lucu tau. Dan semuanya memang udah berakhir karna kita yang ghosting. Mungkin karna udah bosan, sibuk atau lelah. Kamu juga menemukan seseorang baru yang lebih dariku. Aku tau itu. Tapi makasih ya selalu untukmu.

Sekarang aku ngerti, bahwa dengan kita mengirim pesan saja sudah mengubah hidup seseorang, kita tidak tau dibalik hal yang mungkin menurut kita sia-sia, tapi di luar sana, ada yang ngerasa beruntung mendapat pesan dari kita dan menjadi lebih baik karnanya.

Juga, aku pernah beli Somay Pakde yang selalu antri pembeli. Perasaan saat pertama kalinya bertemu 2 teman dekatku yang berbeda tempat prakerin. Lalu, saat beli Bakso Pak Is dan Ayam penyet yang murah meriah dekat dengan RS. Itu sangat menyenangkan.

Kamis, 27 Agustus 2020

Pesan dari Masa Kecil

Saat waktu kecil dulu, rasanya dunia begitu indah ya.

Tiba-tiba suara itu terlintas jelas di telingaku. Lalu aku berpikir apa yang terjadi saat aku kecil dulu, mendadak momen-momen itu berkeliaran membayangiku.

Saat itu, aku bersama saudara-saudaraku dengan mudahnya menangkap kepiting kecil di laut belakang SD. Lalu memakan buah kersen yang kami sebut ceri. Kami juga menggantung tali dan membuatnya seperti lomba kerupuk. Terkadang bukan kerupuk melainkan diganti dengan wafer keju.

Kami juga pernah main sembunyi pong juga yang biasa disebut dengan petak umpet. Biasanya main di rumahku. Sembunyi di mana saja deh, terutama yang sering diincar kolong meja. Lalu, ada saudaraku yang menjadi monster mencari kami sembari memakai kardus, entah dimana ngerinya.

Aku juga pernah main masak-masakan di saat daun mangga kami jadikan martabak telur. Lalu juga main ular naga. Dan main bongkar pasang atau barbie kertas. Meski kepalanya sering copot bisa dipake selotip, sayang 'kan kalau dibuang.

Lalu, aku pernah main sepedaan bersama saudara yang juga tetanggaku. Kami melakukannya saat sore hari keliling jalan. Saat itu rasanya damai sekali, entah kenapa mungkin karna belum banyak kendaraan yang melintas seperti sekarang. Kami juga naik sepeda di aula SD yang lapangan di tengahnya bergambar kepiting.

Pernah aku bertukar sepeda yang berwarna ungu milik saudaraku. Saat kunaiki, entah apa yang terjadi sampai rodanya ga bisa digerakin lagi. Tapi masalah terselesaikan dengan cepat setelah datang bapakku. Ternyata, masalahnya hanya putus rantai saja. Tapi, jujur aku takut banget saat itu sampai aku tidak berani lagi memakai barang dia.

Kami juga pernah main bulu tangkis, meski ga jago-jago banget, tapi aku suka. Karna ini yang pertama kucoba dan bisa.

Saat pulang dari SD pun aku pernah bersama teman tidak langsung ke rumah. Sepertinya itu tidak masalah sih, karena jarak SD dan rumah kami lumayan dekat, hanya jalan kaki saja. Biasanya, kami bermain keong di teras Kedai tempat langganan kami. Di sana bukan makanan atau jajanan yang kami beli akan tetapi mainan. Apa saja deh, dari buku cerita mini, amplop THR berhadiah, dsb.

Terkadang di saat sudah besar di mana masalah juga bertambah, kita ingin kembali ke masa kecil yang katanya indah. Tapi sebenarnya, walaupun kita balik lagi ke masa itu, tetap aja nggak selalu indah, tetap ada masalahnya sendiri, yang hanya anak kecil mengerti.

Saat kecil ada juga hal-hal yang ga bisa kulakukan semua. Terutama, aku tidak pintar menari. Kau tau? Saat masa kecil kami dulu, anak-anak perempuan harus bisa menari, setidaknya itu pikiranku dulu. Menari itu bisa ditampilkan saat acara pernikahan. Dan kebanyakan teman-teman dan orang yang kukenali semua ikut menari, hanya aku yang tidak. Apalagi setelah aku pernah ditunjuk latihan lalu diganti karena salah gerakan. Rasanya beraduk saat itu.

Aku juga tidak pintar pelajaran Matematika mengenai Pecahan, mungkin sudah takdir kali ya. Saat itu seisi kelas mendapat nilai bagus, hanya aku yang tidak. Berakhir kena cubitan di pinggang di depan kelas. Sakit sih tapi lebih banyak malunya. Karena aku anak Guru di SD itu dan aku bukan tipe anak yang suka mencari masalah.

Tapi, dari kejadian itu aku rajin banget bertamu ke rumah-rumah saudara hanya untuk menanyakan bagaimana cara memecahkan soal MTK.

Aku pernah saat sendiri di rumah menyaksikan berita kriminal yang kebanyakan pelakunya seorang laki-laki. Hingga membuatku tidak bisa akrab dengan sejenis mereka.

Saat kecil aku pernah membayangkan, "Enak ya, jadi orang dewasa, bisa melakukan semua sesukanya."

Nyatanya, aku salah. Sekarang aku menyadari. Semakin bertambah usia, kurasa masalah juga bertumbuh. Penuh pilihan, dengan resiko yang kita sendiri menanggungnya. Aku merasa akan ada hari-hari berat setelah pilihan yang kuambil dan membuatku ingin lari darinya. Tapi aku ingat, kata temanku, "Masalah itu bukan untuk kita lari darinya, tapi diselesaikan."

Dan sekarang di sinilah aku. Mengenang masa lalu dengan mereka yang kehadirannya tidak ada di masa sekarang. Mereka yang dulu sangat berarti mengisi hari-hariku sekarang tengah menjalani kesibukannya masing-masing. Ya, kami menjadi orang asing. Tapi aku sama sekali nggak menyesali itu. Justru, aku bersyukur kalian pernah berbagi peran dalam kisahku.

Aku tidak ingin kembali ke masa kecil, seindah apapun itu. Bukan ingin melupakan atau memang karena nggak bakal mungkin. Tapi karena aku sudah hidup di masa sekarang, itu hal berharga yang jauh kumiliki. Karena saat sekarang, aku bisa mengenang masa itu dan meraih masa depan.

Sabtu, 15 Agustus 2020

Selamat Hari Pramuka!

Selamat hari Pramuka! Salam Pramuka! Yuhu ekstrakurikuler sejuta murid selain OSIS, PMR, dan Rohis yang bisa dijadikan ajang pamer buat gebetan atau kakak kelas di Sekolah, haha. Eh tapi sebenarnya tidak sesempit itu, banyak juga lho mereka yang mengikuti Pramuka karena panggilan jiwanya.

Eskul atau organisasi Pramuka ini singkatan dari Praja Muda Karana dan memiliki arti Jiwa Muda yang Suka Bekarya. Sebelum singkatannya ditetapkan, oleh Sultan Hamengkubuwono IX kata Pramuka diambil dari 'Poromuko' yang artinya pasukan terdepan dalam perang. Keren banget ya! Oleh karena itu menurut Permendikbud no. 63 tahun 2014 diberlakukan Wapra.

Di dunia sendiri, gerakan pramuka ini didirikan oleh Baden Powell yang juga berprofesi letnan Tentara. Hingga gerakan kepanduan yang dibuat oleh bapak pramuka dunia itu tiba di sejarah Indonesia pada masa Hindia Belanda.

Omong-omong aku pernah mengikuti eskul pramuka dengan niat yang setengah-setengah, hingga saat badai menghadang langsung membuatku pupus. Aku mengikuti itu dengan alasan ingin berpetualang, yang sebenarnya ialah ingin menolong diriku sendiri (menguatkan mental) dan aku gagal. 

Tapi alasan ku buat-buat yang tidak 100% itu mendapat tepukan meriah dari hadirin waktu itu. Entah mereka setuju dengan yang kukatakan atau hanya menghargaiku. Yang jelas aku salut dengan kakak-kakak pelatih kami, mereka tetap bertanggungjawab dengan tugasnya, ikhlas tanpa dibayar sepeser pun. Kami lelah pun, mereka lebih lelah.

Flasback saat itu, hal-hal yang kulakukan sepulang sekolah sebelum mengikuti eskul pramuka, aku tiduran saja di lantai kelas. Ya, sudah mengganti baju dan memakai jilbab warna netral (hitam). Terkadang juga mengambil selfie. Lalu, aku pergi dengan temanku untuk membeli secangkir es kelapa muda dan mie goreng untuk makan siang.

Setelah itu, kami dilatih baris-berbaris dan keliling lapangan sekolah. Dan hari-hari hujan di kelas pun kami menghafal Dasa Dharma, dengan gertakan kalau belum bisa ga boleh pulang:v Dan saat pulang pun aku belum mahir tepatnya takut untuk mengendarai motor. Syukur, ibuku yang menjemputku. Lalu kami pun makan bakso di tempat dekat sekolahku. Ah, terlalu indah Tuhan untuk dilupakan. Entah, kenapa aku tak mensyukuri hal-hal seperti itu dulu. Eh curcol.

Oh ya, ada juga kakak baik hati kesukaanku. Mau mengajariku yang entah kenapa ga bisa-bisa buat tali pangkal:( padahal yang lainnya mudah. Mungkin karena aku ga hadir sebelumnya. Entah aku yang wajar atau ia, masalahnya itu selalu sabar, kayak sempurna, seperti bintang. Ah aku berlebihan ya?

Juga kakak pembina pramuka yang ulang tahun. Berani-beraninya kami mengerjai ia yang lebih tua, lau berlari kesana kesini menghindari kejaran ia. Hahaha aku salut sama beliau yang pengalamannya dan latihannya udah banyak. Bahkan pernah ke pantai Losari di Makassar jadi iri ga? Wkwk, kalau aku ga tapi semuanya berubah pas dia yang kutau tinggal di Sulawesi juga. 

Tapi aku ga bisa bertahan di eskul itu, entah karena ga pintar berbaur ato lingkungan yang udah ga cocok lagi. Temanku udah keluar, banyak dari mereka sih sebenarnya. Ya, kelihatan memang mana yang niat kuat bakal bertahan akhirnya, tidak seperti pas awal-awal aja banyak banget yang mau daftar.

Pramuka di 61 tahun usiamu, harapnya jaya selalu!

Selasa, 11 Agustus 2020

Masa-masa Singkat yang Indah di PMR

Seberapa penting sih organisasi itu bagimu? Mungkin jawabannya beragam kali ya. Ada yang beranggapan kalo organisasi itu lebih penting daripada belajar di Sekolah itu sendiri. Ada juga yang bilang kalo organisasi itu ga penting, lebih penting nilai akademik. Juga ada yang menganggap organisasi itu penting tapi dia tidak mau bergabung, wkwk, kalo ini saya, dulu. Semua pendapat itu ga salah, ya pasti ada alasannya tersendiri.

Di SMP-ku sendiri dulu ada beberapa organisasi kayak: OSIS (organisasi siswa intra sekolah), Rohis (rohani islam), Pramuka, PMR (palang merah remaja), dan Paduan Suara.

Aku pernah mengikuti PMR, ya walo sementara. Niatku ya mulia banget kalo bisa bantu menyembuhkan orang sakit. Saat hari pertama ramai banget yang ingin bergabung di organisasi pilihan masing-masing.

Hari itu ahad pagi. Kami para murid dikenalkan oleh kakak pembina yang ramah-ramah. Seingatku kami diperintah menulis sejarah PMR di kelas. Kemudian ahad berikutnya, kami diajarkan lagu Tanjung Perak. Lagu asal daerah Surabaya ya? Tapi ini versi PMR hehe.

Sayangnya ku cuma ingat sekilas liriknya.

Tanjung perak, tepi laut, tepi laut~
Siapa suka, boleh ikut, boleh ikut~
...
...
Yang gemuk jadi kurus lagi~
Bangun pagi² untuk pergi ke lapangan~
Untuk mengikuti latihan palang merah~
Di sanalah aku dibimbing dan dijuang oleh prajurit perkasa~
Wahai pelatihku betapa tajam matamu~
...
Andai engkau tahu isi dalam hatiku~
I miss you, i love you~ (2x)

Wkwk, begitulah lagunya. Heboh dan seru. Jujur kalo aku suka 2 kalimat terakhir akwoakwoak🤣 gimana denganmu?🤭

Ahad selanjutnya kami juga diajarkan cara memasang tandu.

Tapi makin kesini, murid yang ikut PMR ini berkurang guys. Ya lama kelamaan kelihatan mana yang benar-benar niat. Walo ada anak pramuka yang pindah ke lain hati organisasi yaitu PMR ini tapi tetap aja makin sedikit.

Termasuk aku, yang dulu males bangun pagi, padahal ya ortu mau aja antar apalagi lumanyan dekat dari rumah SMP-nya. Kalo tau ada temenku yang ia naik sepeda buat ikut PMR itu. Pasti aku ikut, ya memang penyesalan datangnya di akhir.

Tapi ya, walo sebentar aku mensyukuri itu:) kukenang di sini saja.

Kamis, 23 Juli 2020

Saat-saat MPLS Kala Itu

Aku nulis ini karna teringat akan memasuki dunia perkuliahan tahun sekarang yang kebetulan ada Corona. Setelah baca chat di grup maba jadi berpikir Ospek (orientasi studi dan pengenalan kampus) diadakan ato tidak, kalo ga ya apa ada ospek online ya kan ga mungkin.

Ospek online ini gimana ya? Apa baris-berbaris online? Kena marah online? Dikasih tugas sama kakak leting online? :'v

Ah entah harus bersyukur ato tidak 'syukuri apa yang adaa.. hidup adalah anugerah~' *ehmalahnyanyi~*✌🏼 kalo ospek ditiadakan. Ada yang bilang kalo tidak ada ospek, tidak ada pengalaman, perjuangan, dan kenangannya. Tapi ada juga yang senang ospek ga ada karna katanya ospek di indonesia itu buat maba jadi sulit karna ada dibentak juga tugas yang ga wajar. Ya dengar-dengar sih, ga bermaksud menggeneralisasikan juga✌🏽

Btw, ngomongin ospek pasti hampir sama lah ya dengan MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah) wong maksudnya kegiatan pembuka untuk murid baru ato maba. Beda tempat sama jenjangnya saja lah.

Jadi flashback, saat SMP, di masa MPLS, di lingkungan sekolah begitu ramai dengan murid baru. Ya karna yang kami masuki ini Sekolah favorit, juga aulanya yang tidak terlalu luas jadi kayak lautan manusia, haha. Belum lagi ada kakak-kakak kelas dan beberapa guru.

Kebetulan MPLS itu di bulan puasa, jadi kami dibagi beberapa kelompok mungkin ada 8? Dan aku mendapat kelompok Ar-Rahman, ya kegiatannya cuma mengaji saja sih, berkah ramadan😍 eh tapi ada juga murid perempuan yang mengaku halangan jadi ga bisa ngaji, entah betul atau tidak dia wkwk:'v *suudzon, pasti ada aja.

Setelah ramadan itu baru kami latihan baris-berbaris di Lapangan Hiraq. Kakak² kelasnya ga gigit kok. Aku sudah lupa, udah 6 tahun yang lalu, lama juga:') sudah tua wkwk. Ntah apa-apa aja ya kegiatan saat itu. Skip, buat SMK saja ya.

Di SMK, manusianya masih bisa dihitung pake jari hehe. Karna Sekolah ini masih baru, juga letak yang strategis (baca:pedalaman), juga jurusannya yang mungkin kecewekan jadi murid SMP yang unyu-unyu baru lulus jadi berpikir buat masuk kesini.

Kebanyakan teman-temanku termasuk saya sendiri masuk ke sini karna disuruh ortu:') meski ga sepenuhnya ya moga dimudahkan aja lah.

Jadi saat MPLS, itu kami dibentuk kelompok sesuai nomor pendaftaran, maybe. Walo beda jurusan pun dicampur. Kami berkumpul di Aula Sekolah. Diberi arahan dan aturan tertulis oleh guru, diberi tahu asal muasal Sekolah dibangun juga guru yang memegang jabatan di Sekolah.

Setelah itu oleh kakak kelas kami diajak keliling Lab dan ruang-ruang lainnya di sekolah ini. Hari berikutnya juga ada lomba kayak Ranking 1, yel-yel, lomba pidato bahasa Inggris dan Indonesia.

Yang kusalut kala itu kekompakannya lho, asyik banget. Setelah menjalani 3 hari MPLS, besoknya kami memulai aktivitas belajar.

Jumat, 17 Juli 2020

Saat-saat Wapra Dulu 2 (selesai)

Setelah itu, mereka memberi clue, kalo ada petunjuk yang tersembunyi, bisa dicari di lingkungan sekitar. Kami pun memasuki kelas orang wkwk bebas cuy, seneng banget berantakin semuanya✌🏼. Kami menemukan petunjuk itu di kolong meja, lemari, pot bunga, dan bagian pohon.

Setelah semua clue selesai. Kami berlari sampai ke ujung Sekolah. Di sana udah ada kakak-kakak pramuka lagi, mereka pun mencoret muka kami dengan tanah basah dekat toilet itu:')

Lalu kami diberi aba-aba untuk menaiki bukit sekolah. Setelah sampai, mereka menyuruh kami untuk menutup mata dan menyendokkan cairan ke mulut kami dan harus ditelan. Ya wajarlah, ada yang mual juga. Karna rasanya kayak anyir entah itu campuran telur, bawang, atau apa-.-

Lalu ada sebuah ember yang berisi cairan tanah liat, entah udah dicampur terasi jadinya kayak bau banget. Kami harus mencelupkan muka ke situ, oh my.

Setelah itu ada seperti genangan air yang bercampur tanah, kami diperintah tiarap sambil jalan di situ, di atasnya ada kayak susunan tali rafia yang ga boleh dikenai.

Setelah itu syukur selesai deh. Oh ya karna kebersamaan kami ga dibolehin ganti baju, harus tetap pake baju olahraga yang udah kotornya ga tau dibilang lagi. Kami pun membersihkan bagian luar baju luarnya saja yang bisa dibersihkan. Wkwk untung ga masuk angin, kalo kata orang terdahulu. Tapi, serius masuk angin itu gimana ya? Ada yang pernah ngerasain?🤭😂

Setelah itu, ada lomba membuat Kuwah pliek U dong, makanan khas Aceh. Ku ga kebagian jadi ga tau gimana rasanya, yang jelas kelas kami ga menang. Di samping penampilan yang ga begitu meyakinkan, ada yang bilang ntah kenapa rasanya hambar, wkwk.

Oh ya kusuka ada kakak Pramuka yang punya kulit sawo matang dan senyuman manis. Sambil memetik gitar ia menyanyikan lagu Lapang Dada-nya Sheila On Seven.

"Kau harus bisa.. bisa.. berlapang dada~
Kau harus bisa.. bisa.. ambil hikmahnya~"

Ya, karna kebetulan aku juga lagi euforia dengan lagu-lagu SO7 saat itu. Sayangnya kakak itu beda sekolah dengan kami, hiks😢

Setelah lomba membuat Kuwah Pliek U  Ada lomba memasukkan air ke dalam botol, kemudian mengoper tepung dengan tangan. Mendadak kayak acara 17-an, jajaja.

Karena lomba itu lah kelas kami menang. Setelah semuanya selesai ada sedikit kejutan kecil. Seorang kakak Pembina memarahi anak didiknya. Kakak pembina itu menampar seorang kakak laki-laki. Kami yakin, tamparan itu tidaklah main-main.

Ternyata, mereka melakukan itu untuk seorang murid baru perempuan. Jadi gini, nah jadi gitu :v *plak* eh 'j kidding say.

Jadi, kakak pembina itu bilang, "Kenapa kamu ngasih bunga itu ke adik kelas!? Kamu tau kan itu bunga l*nte (latar)!?"

Fyi, bunga dari rumput belulang itu lho, yang menempel di baju kita kalo kena dia. Sementara, teman kami itu, you know lah dia nangis.

Dan ada kakak pramuka lain yang rekam juga saat itu. Eh, tiba-tiba hayoo tiba-tiba apa coba? ✌🏼._.

"Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday, happy birthday, happy birthday to you.."

Yups, ternyata teman kami yang dikasih bunga itu ultah, guys. Sontak kami pun tercengang bercampur heboh juga. Dan terjadilah aksi siram-siraman air terasi tadi, alhasil kami lari ga tentu arah buat menghindari. Kan ga lucu kalo kena cairan tu lagi.

Selepas itu, kami diberi aba-aba untuk berbaris lagi. Untuk yel-yel:

Bukan karna topinyaa ku jadi pramuka~
Bukan karna dasinyaa ku jadi pramuka~
Bukan karna bajunyaa ku jadi pramuka~
Tapi karna jiwanya~
Hoooo ... 8x

Siapa bilang kita tidak berani~
Mengguncangkan dunia dan samudera~
Belajar berlatih itu misi kami~
Baju coklat² kebanggan kami~
Hoooo ... 8x

Dan berakhirlah saat² Wapra ini, ditutup dengan ucapan kakak pembina. "Hati² dalam perjalanan pulang kalian.."

Kamis, 16 Juli 2020

Saat-saat Wapra Dulu

Pagi itu, setelah kurang lebih 2 pekan sebagai murid baru, saat belajar kelompok, tiba-tiba kami kedatangan kakak-kakak kelas dari Pramuka. Mereka ngasih tau kalo Sekolah akan mengadakan Wapra (wajib pramuka). Ya namanya juga wajib, jadi mesti diikuti.

Sebelum hari-H tentulah kami perlu latihan baris-berbaris terlebih dulu. Latihannya 1,5 jam setelah pulang sekolah, dari selasa sampe jum'at, maybe? Ku juga lupa.

Oh ya ada yel-yel pramuka yang diajarkan kayak:

Hai kamu duhai gadis ayu
Kenapa dulu kau bilang i love you kepadaku
Tapi sekarang kau diam membisu sayang
Setelah tahu apa profesiku *pramuka*

Memang benar kau tinggalkan aku *sayangku*
Setelah dapat pengganti yang baru *apalahu*
Memang uang pegang peranan penting sayang
Tapi cintaku lah *hey* yang teristimewa

Hehehehehehei hei cewek jaman sekarang rata-rata mata duitan
Hehehehehehei hei cowok jaman sekarang rata-rata mata keranjang

Tapi ntah kenapa saat itu aku & teman-temanku yang lain, rajin banget ikut latihannya. Karna takut, mungkin? Soalnya temenku yang laki-laki malah santai saja ga datang, ga disanksi.

Hingga tibalah saat Wapra, tanggal 27 Agustus 2017 hari jum'at ada pembukaan oleh Bu Kepsek.

Esoknya sabtu, kami dikasih nasi bungkus tapi harus dihabiskan. Kalo ga digertak nasinya mesti dikunyah, lepehin, terus dimakan-_- astaghfirullah nyebut.

Lalu lomba baris-berbaris. Kelas kami tidak menang, mungkin karna komandan barisan yang lagi sakit berpengaruh ke suaranya, u bayangin tu suara lagi melengking tinggi eh tiba-tiba kayak tikus terjepit:') :'v

Lusanya hari terakhir Wapra, yang ditunggu-tunggu dan paling berkesan. Diadakanlah hiking. Sangat pas untuk sekolah kami yang di ruang letaknya naik turun bukit.

Karna hari makin lama terasa panas. Regu pertama jika mau melakukan apa yang diminta mereka mulai duluan. Yang menyuruh bapak asal Surabaya kayak Anang katanya, yang sebenarnya berprofesi Tentara tapi ia dipanggil 'Kakak' karna jadi Komandan Acara.

Beberapa regu sudah jalan, setelah melakukan aba-aba dari si Instruksi. Saat kakak itu menyuruh nyanyi, ga ada satupun regu-regu lain yang mau. Adanya saling menunjuk, 'Nyanyi aja lah teros, biar cepat.' -..-

Terus kakak itu bertanya, "Siapa Presiden Indonesia yang tidak berasal dari Jawa?"
Seorang laki-laki menjawab, "B.J. Habibie."
'Waw pandenya.' batinku.
Regu dia pun jalan.

Kakak itu memberi clue. Katanya pas tahun 2004 beliau mengikuti ajang bernyanyi, ada juri yang beliau idolakan sekaligus mengecewakannya karna ia jadi dieliminasi. Entah bener ato ga cerita beliau:')

"Sebutkan nama penyanyi dari lagu yang kakak nyanyikan." Pintanya.
"Andaikan kau datang kembali~
Jawaban apa yang kan ku beri~"

Deg._., ku tau lagu ini dari sinetron Rindu Tiara di A*TV wkwk. Ini kan yang dimainkan Noah. Lumanyan banyak yang tunjuk tangan, termasuk aku tapi rata-rata jawaban mereka salah. Saat kubilang 'Noah' juga salah.

Oh ya, ku jadi ingat karna lagu itu kesukaan mamakku juga. Dulu pernah kucari di YT ternyata ada penyanyi perempuannya.

Lalu kubilang, "Ruth Sahanaya."

Kakak itu baru mempersilahkan regu kami jalan.

Setelah itu kami berbaris membentuk 2 shaf. Kakak-kakak pramuka pun berlagak galak. Mereka memoleskan cairan entah tinta ato cat hitam ke muka kami. Lalu, tes latihan baris-berbaris.

TBC🤭

Sambungannya

Selasa, 07 Juli 2020

Meski Perlahan Terlupakan, Terima Kasih Sudah Mewarnai Hari-hariku.

Gimana sih cara kalian buat mengenang masa yang udah lampau? Yang kita udah lupa, tapi saat kita membaca atau melihatnya jadi teringat. Caranya dengan catatan di HP kah? Curhat di medsos? Atau nulis di diary 'asli'?

Memang sih, mengenang hal itu ga sepenuhnya bikin kita bahagia, atau buat bersedih. Tapi, bukankah sesekali kita melihat ke belakang, untuk bercermin, syukur-syukur bisa memperbaiki kesalahan yang lalu untuk melangkah ke depan.

Manusia itu unik, tapi juga tidak ada yang sempurna, hidup untuk berproses dengan pilihan masing-masing, di samping itu semua sudah diatur, dengan risiko, harapnya menjadi lebih baik sampai tiada.

Karna saya ingin menghargai proses itu, jadinya dengan cara menulis diary, hehe. Ini penting banget buatku, selain jadi ingat tentang pengalaman terdahulu, juga bisa mencurahkan hobi. Dan yang terpenting menambah rasa syukur, alhamdulilah masih diberi helaan nafas sampai saat ini :)


Penampakan diary, ini dulu harganya lebih kurang 20 ribuan lah. Ukurannya segenggaman tangan. Warna pink khas ceue banget kan:') kartunnya Sofia, btw ada yang pernah nonton ga?

Dan berikut beberapa isinya, yang singkat saja;

Kertasnya warna pink. Sudah kurang dari 5 tahun yang lalu, ini saat SMP. Aamiin-kan do'anya untuk kita semua guys, hehe.

Jadi dulu tu ada balai yang seolah jadi saksi bisu hidup kami di sana. Gimana ga, dari kelompok A (Qur'an kecil), B (Qur'an besar) dan C (kitab Arab). Indah banget kala itu, shalat maghrib berjamaah, piket selepas selesai ngaji, muadarah (latihan pidato) dan maulid nabi. Pas kecil (SD) ga lupa jajan dunk apalagi ada uang saku, cuss~ kami beli es gabus yang enak sekali cuma gopek, kerupuk mie, bahkan lotre:v

Memang saat² terakhir ngaji di situ udah berkurang santri²nya. Mungkin karna mereka udah beranjak dewasa dan ada kesibukan masing-masing. Nah kan, curcoll :)

Syukur banget bisa melalui itu:) hm, bau² masih normal.


Nah tu tau kok, hehe. Emang si, lebih mudah ngomong daripada melakukannya *plak


Apa yang kamu lakukan saat jamkos?

Ngakak bet wkwk kalo ingat itu. Ya hikmahnya, jan ucap kata² kasar dan ga boleh maen nyiram² orang juga😅😂



Seriously, kalian pernah digituin ga si? Itu pelajaran olahraga. Kalo diingat sekarang ko mau-maunya disuruh begitu wkwk. Tapi gapapa lah sebagai anak yang rajin dan patuh terhadap guru:')

Rabu, 17 Juni 2020

Saat-saat Kena Tilang

Jujur, seumur hidup baru kali ini saya kena tilang. Mungkin itu memang ga rezeki kami, atau jadi pengalaman yang ga terlupakan.

Pagi itu, Senin, pukul setengah 11 siang, saya dengan mamak mau ke sekolahku. Di perjalanan, dekat Satlantas ada seorang Polisi berdiri di tepi jalan. Karena mamak ga pake helm, beliau bilang: "Nga, mamak turun aja ya, jalan kaki sampai sana." Kubalas, "Gapapa Mak e, tu aja orang lewat ngak apa."
Beberapa saat kemudian, si Polisi pun ga di situ lagi. Berlanjutlah perjalanan kami.

Setelah itu, kami tiba di rumah ngambil laptop. Dalam batinku, 'minta ajak mamak makan bakso enak kali ya." Ya, memang hobi kami makan itu "nga, nanti kita makan bakso." Serendipity!
"Kita tadi dalam hati dah bilang mu makan bakso." Seruku.

Saat di perjalanan. Guys, ternyata memang sudah diberi tanda, kita lah yang ga peka. Ingat saat cerita tadi ada Polisi? Dan akhirnya, kami diberhentikan.

"Selamat siang, maaf mengganggu perjalanan ibu. Bisa tunjukkan STNK-nya?"
"Di rumah ga bawa pak." Mamak bilang.
Alhasil diminta kunci. Saya jadi ingat, ada berita orang yang lebih memilih membakar motornya daripada ditahan:') ku jadi tau rasanya gimana, tapi ya ga mungkin dibakar juga:')
Ku mau pulang lagi buat ngambil STNK sama juga, tu motor tetap ditahan.

Lalu, polisi itu nanya nama mamak buat ditulis surat tilang. Mamak ga mau. Teringat katanya kalo dah gini, jan ambil surat tilang. "Gimana ni nga?" Tanya beliau. Kami berpikir.

Mau hubungi bapak juga, tapi pasti marah. Karena sebelumnya, udah diwanti² buat pake helm. Akhirnya, nelpon juga.
"Mas, ni Honda (namamamak) dah ditahan, kena tilang."
"Udah dikumpulin helm di rumah, ga dipake, urus aja sendiri." Balas seseorang di ujung sana. Btw, kemarin tu pernah juga gini, tapi karna bapak kenal orang dalam langsung selesai perkara, ni karna beliau ga di kota ni.

Btw, sebenarnya motor kami semua dalam kondisi baik, pajak & plat ga mati, STNK & SIM juga, spion semua lengkap. Cuma satu salah kami, salah satu ga pake helm.

Terus mamak nanya sama si polisi yang dibalas harus 'disidang'.
"Apaan emang dikiranya kita kriminal." Kesalku.

Kami ntah nunggu & pikir apa:') tiba² ada seorang bapak dengan ramahnya.
Kata beliau. "Motor saya juga ditilang. Ibu ambil aja surat tilang, nanti saya bantu. Saya dah 5x kek gini. Ada kenalan saya."
Btw saya ngakak pas dibilang 5x gitu, LOL. Dan, kami waspada dung, apalagi beliau orang asing, tapi karna emang ga tau lagi mau buat apa jadi ambil dah tu surat tilang:')

"Tadi ga mau." Kata ntu Polisi_-

Sesudahnya, bapak itu minta nope mamak. Kami pun balik ke SD mamak buat belajar ngisi rapor sama guru lain naik becak.

Ga lama, sebelum jam 1 siang. Bapak tu nelpon lagi. Beliau dah nunggu di Satlantas. Mamak pun nelpon Abang kami buat ngambil STNK, duit, sama helm.

Tiba kami di sana dengan bapak itu, lama abangku sampai. Abangku salaman sama bapak tu. Terus beliau bilang, "Perlu duit 200 ribu buat ambil."
"Ha? 200 ribu? Ga ada duit segitu saya pak." Kata mamak. (Disamping karna mahal banget, juga pas²an)

Tiba² Bapak kami nelpon, bisa dibantu teman dari temannya kata beliau. Terus mamak bilang sama bapak itu "Ga usah aja pak, maaf ya, ni dah ada suami saya, makasih dah dibantu."
Bapak tu senyum terus ngucap, "Kalau ga bawa uang 50 ribu ja sama STNK." Sesudah mamak kasih, beliau narik helmku masuk ke Satlantas.

Karna takut juga dibawa lari, mamak ngikutin. Setelah beberapa saat nunggu, bapak tu mengendarai motor kami, mamak nyusul di belakangnya.
Ternyata, beliau ninggalin tasnya, sebagai bukti kalo beliau ga ngacir mungkin.

"Bapak mau pergi ke mana? Naik apa pak?" Kata mamak.
"Ke kantor Capil, naik becak."
"Bang antar bapak ni. Sama anak saya ya pak."
Abangku nurut.
Bapak tu senyum, "motornya nanti tanggal 18, ga lama lagi 10 hari lagi."

Setelah mereka pergi, kami heran dah. Lama banget itu. Bapak tu katanya motornya ditilang dah diambil, tapi kenapa ga dinaiki? Terus duitnya ntuk dia ato Polisi? Kalo STNK nya ditahan sama aja, kami pun bisa ga perlu bantuan bapak tu. Kalo beliau memang perlu duit, ya udahlah. Tapi gimana dengan STNK kalo sama Polisi, gimana cara ambilnya? Pakai sidang dalam keadaan Corona gini?

Udah kejadian gini, bapak dan anak² mamak yang lain bilang. "Mamak tu ga pake helm."
"Heh, dah terjadi juga. Udahlah ga payah dibilang juga dah tau." Kesalku.
"Man dah tau kenapa ga dipake."
"Makanya ingatin."
"Orang dah tau ada razia, mamak sendiri yang bilang."
Huh, ku ga abis pikir. Ngomong doank gampang:') Do'ain ya kawan moga gapapa STNK-nya:)

P.S ratusan karakter terpanjang yang pernah ada:')

Edit: Ternyata di keterangan surat tilang itu untuk mengambil STNK-nya bukan tanggal 18 tapi 25. Hal tersebut baru diketahui saat tanggal 18 ke Satlantas itu. Tidak teliti membaca:') dan akhirnya setelah tanggal 25 dibolehin ambil dong STNK-nya. Alhamdulillah, thx udah baca guys.

Kamis, 11 Juni 2020

Pengalaman Mengikuti Lomba Menggambar Ala Anak SD

Ada ga si diantara kalian yang hobi ikut lomba dan sering mengoleksi piala & piagam. Kalo ada, apa sih motivasi kalian buat ikut itu? Bukan apa-apa sih, kayaknya kalian itu unik banget wkwk, juga keren karna buat melatih skill juga 'kan.

Kalo saya, seumur-umur baru ikut 2 lomba, itu pun sewaktu TK dan SD. Ya, ga pernah fokus ke juaranya si, cuma  nambah pengalaman dan melatih diri aja. Saat TK dulu saya pernah mengikuti lomba mewarnai, meski kata orang-orang gambarnya ga keluar garis, tapi tetap aja ga realistis sih, masa ban motornya warna cokelat, memang ada ya? *Duh btw, ngetik cokelat ditambah muncul stikernya jadi pengen_-

Kalau pas kelas 5 SD saya ikut lomba menggambar di Taman Mini kota kami:) saat event Warna Warni Peduli XIV pada tahun 2013 dengan temanya 'Indah Alam Acehku, Cerminan Jati Diriku.' dan memang banyak banget pesertanya. Dan sayangnya lomba-lomba seperti itu ga diadakan lagi:( entah kenapa, mungkin keterbatasan biaya (?) Kurang sponsor, atau malah ga dapat izin.

Kembali lagi, lomba yang saya ikuti pas SD itu gambarnya memang ga sesuai, wong temanya tentang alam Aceh malah kugambar pemandangan yang ada di tempat pensil warna, wkwk. Habisnya bingung juga mau gambar apa. Seperti ini:


Oh ya, setau saya cuma 2 siswi yang mewakili SD kami, saya dan seorang teman. Motivasi saya ikut lomba itu karna ingin menampilkan bakat aja kali ya dan ingin membanggakan orang tua:') cita-cita tulus kebanyakan anak berbakti, wkwk. Karna ditunjuk Guru dan dipercayai teman sekelas 'yang katanya saya pintar menggambar' juga lah menguatkan tekadku:3

Balik lagi, jadi pengumuman lomba ada setelah jam makan siang. Kami pulang dulu ke rumah, karna kebetulan dekat. Dan, kembali lagi ke event itu, dan ku ga menang. Jadi, ambil sertifikat saja, mantan lah eh manyan. *Duh auto correct_- Dan kami lihat juaranya ia yang menggambar rumoeh Aceh.


Sertifikat tapi ga ada namanya:')

Akhirnya, saya bersyukur banget bisa ikut lomba-lomba itu, dan sekarang bakat menggambar saya perlahan berkurang. Ternyata, latihan itu penting sekali ya. Mungkin, karna perlahan waktu berjalan dan asumsi diri sendiri yang 'mungkin memang ga bisa menggambar lagi.' itu berpengaruh banget sih bagiku. Coba kayak dulu, 'oh gambar ini? Gampang banget.' dan dijamin hasilnya puas.

Selasa, 26 Mei 2020

Album Artistik dari Celengan Kenangan

Sewaktu dulu, saat tengah baca suatu Webtoon berasaiklan ada postingan gambar tabung yang isinya kertas lipat warna-warni dengan kutipan English di samping yang artinya; 'Berawal tahun baru, tuliskan tiap kali terjadi peristiwa indah pada notes, isikan ke dalam tabung, dan baca ulang saat akhir tahun nanti.' Kurang lebih seperti itu. Ekspektasi;



Author yang memposting gambar itu mencontohnya, *sayangnyagambaryangdimaksudilang:(
saya sebagai reader pun ikut-ikutan. Oh ya, kalau tabung itu cantik banget bentuknya, dari stoples selai entah kue. Ada juga yang berhias kartun. Dan kertasnya HVS warna-warni yang sudah dipotong kecil-kecil.

Saya sendiri cuma pakai botol air mineral dengan kertas jeruk punya sisa di rumah:')  *gapapabersyukurjugahemat ya kan ga masalah sih mau pakai apa saja, yang penting konsisten ngisinya. Jangan kayak saya, mulanya aja yang menggebu-gebu, tapi akhirnya jadi alpa pas buat itu. Oh ya, buatnya sudah lama sih, beberapa tahun yang lalu, tapi gapapa lah sharing ini buat hiburan nambah ingatan juga:D. Realita;


Sighting; terlalu estetis ya kan? :'v itu yang bagian atas kertas putih itu, diisi adek:') Jelas keliatan kalo punyaku isinya sedikit banget:v

Ini kurang lebih beberapa isinya;


Pict 1 'Ini yang normal, beda sama aku' maksudnya, setelah UTS itu masih ada osiscup, belum libur. Cuma karna saya duluan meliburkan diri, jadi bagiku liburnya lebih dari dua pekan dari yang seharusnya.


Pict 2 Jadi flashback pas kelas 9 SMP pernah nengok temen kelas sebelah baca ni novel. Awalnya si menduga, 'apaan sih novel zaman dibaca tahunnya aja 1990.' eh ternyata cuma cerita, bukan novelnya yang terbit tahun segitu. Dan lama kelamaan kepikiran 'covernya bagus juga ada visual anak SMA nya hehe jadi pengen tau gimana kehidupannya' Dan akhirnya pas SMK, sebelum film Dilan dirilis udah dapat tiga ebook novelnya dunk, alhamdulillah.


Pict 3 Karena film Dilan 1990 booming banget waktu itu, aku sampe pengen beli TTS dan sampe sekarang belom selesai isi dong. Somay bang Romy enak banget asli. Saya dari SMK 8 bela-belain ke SMK 3 buat beli. Tapi ga bisa tiap hari si, tergantung labi-labi si kakek kadang lewat situ, sering di pasar buah. Dicoret wkwk, malu(*^.^*)

Menurutku pribadi sih ini bagus banget, bisa ningkatin rasa syukur karena masih diberi kehidupan dan hal-hal yang indah oleh-Nya. Ada juga perasaan ga nyangka udah bertahan sejauh ini. Banyak hal-hal kecil terlupakan namun berkesan, ya cukup dikenang saja.

Kekurangannya baru nyadar, ternyata semua notes-ku itu  kebanyakan ga ada faedahnya, berasa bucin terus ke ex, yang dibaca sekarang malah miris sendiri.

Minggu, 17 Mei 2020

Pengalaman Hari Pertama Prakerin di Salah Satu Instansi RS

Halo sobat pembaca yang kece hehe. Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman Prakerin kami sewaktu kelas 11 dulu. Memasuki dunia kerja, di mana tempat kami merealisasikan ilmu kali dahulu di Sekolah hingga menambah ilmu baru sekaligus mendapatkan pengalaman yang belum pernah dialami sebelumnya.

Saat hari pertama saya dan teman-teman dibimbing guru kami Miss Ira. Mengadakan wawancara dengan kepala RS dan kepala Lab. Setelah itu guru pembimbing balik ke Sekolah dan kami diajak berkeliling RS. Mungkin ini norak, tapi saya senang bisa pertama kali naik Lift nya hehe yang biasa dipakai hanya petugas medis.

Sesudah itu, kami yang dari jurusan TLM ke Lab sedangkan teman-teman dari jurusan Farmasi ke Apotek. Di Lab, kami melihat alat-alat yang lebih canggih tentunya seperti Hematology Analyzer. Saat belajar dulu kami harus menggunakan alat manual satu-satu untuk melakukan pemeriksan hitung jumlah leukosit pakai improve neubauer (kamar hitung), hemoglobine dengan Hb Sahli, dsb. Di dalam HA sudah lengkap untuk pemeriksaan eritrosit, leukosit, trombosit, hemoglobine, dengan sampel darah saja.

Ada juga alat canggih lainnya seperti Fotometer untuk memeriksa kimia klinik, Urine Analyzer untuk pemeriksaan urine rutine dapat mendeteksi kandungan di dalamnya seperti glukosa, protein, sedimen, dll.

Mungkin ada yang bertanya-tanya sewaktu kami dulu, 'kalau alat-alat lab sudah canggih kenapa harus pakai yang manual?' menurutku ya kita kan ga pernah tau, terkadang alat-alat itu bisa rusak, ya namanya juga elektronik, atau kalau di RS kan pasien banyak banget dibutuhkan hasil Lab segera. Dan lagi harganya pun mahal banget! Bahkan HA aja sudah ! Rp 40.000.000.00 *nangeeskejerT_T*

Bapak kepala Lab pun sangat ramah dan mau berbagi ilmunya. Beliau juga bercerita tentang masa saat pendidikan, ternyata beliau belum kuliah hanya menempuh SMK dengan jurusan TLM saja, tetapi dengan kemahirannya beliau memperoleh D3. Kerenn banget bukan!? Ini menunjukkan bahwa kompetensi lebih penting daripada gelar.

Oh ya, bapak kepala Lab itu juga pernah nanya satu pertanyaan, mengetes kemampuan kami mungkin, kayak: 'apa kepanjangan edta?' yang sontak batin kami teriak 'aahh pertanyaan wajib itu kok bisa lupa sih!?' buktinya ga ada dari kami yang bisa jawab:') *edta (Asam etilenadiaminatetraasetat).

Lalu beberapa dari kami diajak kakak di Lab (ATLM) mengunjungi pasien untuk melakukan sampling (pengambilan darah). Setelah itu darah dihomogenkan dengan rotater supaya tidak beku. Tergantung pemeriksaannya juga sih, ini berlaku untuk pemeriksaan hematologi. Oh ya, ATLM ini bertugas saat Form permintaan Lab dari dokter.

Setelah itu kami yang berjumlah 4 orang sehari dibagi 3 shift, pagi pukul 08.00-14.00 siang, siang 14.00-20.00 malam, malam 20.00-08.00 pagi. Teman yang tidak kebagian shift libur. Tiap shift diatur 2 hari dan berlaku esoknya. Dalam 1 shift kami sendiri-sendiri. Ya bagus sih, kayak mandiri gitu tapi ga enaknya ga ada teman ngobrol di sela shift wkwk. Oh ya, kalau shift kakak di Lab mereka bertugas dari pukul 08.00-17.00 sore dan 17.00-08.00 pagi. Tiap shift berjumlah 2 orang, tapi ada juga sendiri seorang:')

Setelahnya kami, pamit sebentar buat makan siang di warung. Ada juga temen yang udah bawa bekal ga tau apa dia mau hemat atau emang niat mau bawa wkwk, tapi akhirnya nyolong juga sambalku_- Teman yang satunya hanya makan nasi dengan ikan+sambal saking orang Acehnya (katanya orang Aceh ga suka sayur hehe) harganya sama sih untuk seporsi nasi Rp 10.000, kalau saya ga mau rugi jadi nambahin aja tu sayur.

Sesudah pukul 17.00 sore kami baru pamit pulang. Dan esoknya bersiap untuk menjadi anak prakerin:')

Selasa, 12 Mei 2020

Pengalaman Tes Masuk SMK Keahlian Kesehatan

Hai guys! Saya nulis ini barangkali ada yang berangan-angan 'gimana sih pengalaman tes masuk SMK Kesehatan?' seperti saya dulu😂 mau nanya ke kakak kelas segan:')

Jadi hari itu, di tahun 2017 diadakan tes masuk SMK negeri di kota kami. Jurusannya cuma ada 2 yaitu Farmasi dan Analis Kesehatan. Saya ke sekolah itu didampingi mamak hehe, nebeng juga karena ga terlalu lancar bawa motor dulu. Sesampai di sana sudah lumanyan ramai, dengan para calon murid yang beranekaragam.

Kebetulan saya termasuk beruntung karena mendapat formulir jalur khusus itu berarti ga perlu ikut tes tulis, seperti calon murid yang jalur umum.

Saya dengan nomor tes 095 harus mengikuti tes wawancara dulu, sedangkan para calon murid yang dari nomor urut 001 dst melalui tes kesehatan atau tes mengaji, ya secara bergantian.

Batinku. 'Duh baru awal-awal aja, udah mulai wawancara.'

Setelah nomor giliran dipanggil, saya pun memasuki ruangan. Di sana ada guru yang barangkali kuketahui bernama Bu Linda.

Maaf guys, karena kejadiannya 3 tahun yang lalu, saya tuliskan seingatku saja ya.

Jadi saat itu saya disodori soal pecahan Matematika. 'What the ... demi apa kok langsung harus kerjain soal, MTK pula ... Duh apa yang harus kujawab ini!' pikirku sambil tercenung. 'Udah kayak masuk SMA jurusan IPA aja, padahal ini mau masuk SMK Kesehatan.' batinku sok tahu, dikira pelajaran MTK ga banyak menghampiri.

Kulirik di sebelah calon murid jurusan Farmasi yang sama denganku yang cengo ga bisa jawab wkwk. Sampai akhirnya Ibu itu mau mengajari. Ya Tuhan, padahal soal SMP begitu, eh atau SD? Duh malu, bahkan harapan untuk dapat diterima di sini pun nguap.

Lalu Ibu itu nanya,
Bu Linda: "Apa yang kamu ketahui tentang jurusan Analis Kesehatan?"
Saya: (Teringat dari sosialisasi SMK itu ke SMP kami dulu.) "Analis kesehatan adalah jurusan yang mempelajari tentang pemeriksaan cairan tubuh seperti darah, feses, urine, sputum, dsb buk."
Bu Linda: "Kenapa kamu mau milih jurusan ini?"
Saya: "Karena saya bisa membantu dokter mengobati orang sakit, memeriksa cairan tubuh di lab buk."
Bu Linda: "Sebutkan ada berapa gol darah?"
Saya: "Ada 4 buk. A, B, AB dan O."
Bu Linda: "Alat apa saja yang terdapat di Lab?"
Saya: (Di sini saya kicep, bodohnya kok ga kepikiran ya buat search di Mbah Google:") tapi saya jawab sebisanya kayak Termometer dan Mikroskop. Sisanya saya bilang bilang saja ga tau Bu, pasrah:') tapi nanti saya bakal belajar cari tau Bu:)
Bu Linda: "Kapan kamu akan belajar?"
Saya: "Sepulang dari sini buk."
Lalu, dikasih tau dong alat-alat yang ada di Lab itu. Selesai sudah wawancara.

Setelah itu menunggu giliran tes mengaji. Lalu tes kesehatan, di sana di timbang berat badan dan tingginya. Tes buta warna dan tes mata. Juga ada ditensi darah.

Sesudah itu, ada pengumuman yang menyatakan kalau saya lulus. Ya, alhamdulilah:) lalu nama jurusan Analis Kesehatan barangkali kuketahui sudah berubah nama menjadi Teknologi Laboratorium Medik saat MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).