Senin, 24 Agustus 2026

Sebuah Balasan di Bulan Desember (Part 3 - Ending)

Ternyata, suaranya bagus saat bernyanyi tapi tetap saja dia tidak percaya diri. Aku suka sekali memaksanya bernyanyi meski sering tidak diiyakan. Saat itu dia bilang buatku, "Ternyata, orang yang banyak bertanya juga bisa kesal saat orang banyak bertanya sama dia." Waktu itu aku banyak cerita sama dia, apa saja lah, mau itu hal yang random, ataupun agak serius macam topik cinta yang selalu menarik untuk dibicarakan. Tapi semua pertemanan tidak semulus itu, kami juga pernah ada salah paham.

Teh Oreo pernah kesal padaku karena waktu kami chatting, aku pernah tiba-tiba centang satu di WhatsApp. Saat itu dalam pikiranku, "Ini HP juga nanti bakal mati sendiri, ntar aku beberes dan ngerjain tugasnya." Ya, aku sangat malas buat charger HP, jadi sering sampai mati total. Aku ngga mikir di sisi lawan chat aku, dia itu jadi nggak dihargai.

Dulu itu, aku sangat suka chatting dengan banyak teman virtual yang entah dari Slowly, Twitter, Whatsapp, atau platform manapun. Aku jadi kecanduan, kebetulan HPku pun cepat banget habis baterainya, aku yang kecanduan chat pun sering nunggu HPku mati sendiri alih-alih menchargernya dulu. Aku pernah ngira hubungan sama teman virtual bisa dilakukan di waktu senggang saja dan kapanpun aku mau. Padahal kata temanku, "Virtual-virtual kan orang juga, bukan boneka."

Aku nggak memposisikan kalau aku ada di dia. Harusnya aku bayangin kalau, kita lagi hadir dan ngobrol tiba-tiba lawan bicara pergi begitu aja, nggak ada angin dan hujan, rasanya jelas ngga mengenakan. Aku nggak sadar sudah menyakiti dia secara nggak sengaja. Aku bersikap seenaknya sama teman yang padahal aku nyaman dengannya. Perlahan tapi pasti, dia pun mulai mengurangi rutinitas kami yang biasa. Bisa dibilang chatnya nggak seexcited dulu, aku paham, dan meskipun aku cuma minta maaf tapi tetap saja sih nggak mengubah aku sudah salah.

Hari-hari berlalu setelah itu, kami masih chat meski nggak seintes dulu. Teh Oreo emang nggak pernah sih chat duluan, tapi anehnya dia selalu fast respon. Di zaman sekarang, orang yang fast respon itu langka, dan itu berarti dia menghargai kita. Teteh itu juga bilang kalau chat sudah tengah hari, dia malas balasnya, di samping dia juga nggak suka notif apapun itu kalau ada langsung dihapusnya. Sepertinya, dia orang yang teratur.

Enam tahun kemudian, nggak ada yang berubah, semua tetap sama. Biasanya aku yang suka chat duluan, kali ini sudah sangat jarang. Dia juga menyadari, katanya "Mungkin kamu sudah kerja, jadi mulai stres wkwk." Aku jadi mikir, "Lah, dirinya sendiri kerja sudah selama itu, tapi dulu masih mau balas-balas chat denganku, kayak nggak nampak stresnya malah. Atau dia sudah menjelma menjadi ikan opah, kesukaannya.

"Kamu juga memulai komentar."

"Andai bisa diulang, aku ga mau komen."

"Apakah kamu menyesalinya?"

"Ya, banget."

Aku menulis ini sambil dengar lagu yang pernah direkomendasikannya tiga tahun lalu, I'm Done dari Mina Okabe.

Minggu, 02 Agustus 2026

24 Pelajaran Hidup di Umur 24 Tahun

Suatu kali, aku pernah membaca blog yang berisi tulisan tentang 24 pelajaran hidup si penulis di umur 24 tahun. Maka, aku pun ingin membuatnya sebelum memasuki umur seperempat abad, insyaAllah.

1. Jika tidak ada yang percaya padamu, percayalah pada dirimu sendiri. Tidak apa-apa, Allah swt akan membantu.

2. Waktu itu cepat habis seperti es batu yang mencair, maka pergunakanlah.

3. Waktu juga seperti kaca yang retak, yang nggak mungkin bisa balik seperti semula. Jadi, seburuk apapun masa lalumu, itu sudah tertinggal jauh ke belakang, melangkahlah ke depan.

4. Yang terpenting menikmati perjalanannya, tujuan itu bonus.

5. Internet seperti senjata bermata dua, kamu bisa memanfaatkannya atau dia memanfaatkanmu.

6. Kamu tidak mungkin disukai semua orang, mereka punya perspektifnya sendiri. Fokus saja ke yang menyukaimu.

7. Makan yang sehat, istirahat yang cukup, hiduplah untuk hari ini, tak perlu risau yang belum terjadi.

8. Perbanyaklah belajar apapun itu, mendengar kajian ustadz, catatlah dengan buku dan pena.

9. Jangan menggantungkan kebahagiaan ke orang lain, bahagia itu kamu yang ciptakan.

10. Sering-seringlah menulis untuk meluangkan pikiranmu.

11. Tidak perlu terpengaruh dengan kata-kata tanpa aksi.

12. Tidak mungkin kita bisa menyenangkan semua orang, selama kamu tidak salah, santai saja.

13. Keluarlah dari rumah, beli sesuatu yang kamu suka, tapi jangan impulsif.

14. Berkaryalah, mungkin belum menghasilkan sesuatu tapi kamu sudah mencoba.

15. Kamu sudah sampai sejauh ini, itu membuktikan kamu bisa.

16. Hadapi rasa takut itu, jangan terus lari darinya.

17. Hargai waktumu, itu bekal untuk masa depanmu. Yang sudah berlalu, biarlah.

18. Sayangi orang yang dekat dengan kita, karena kita nggak pernah tahu kapan waktu itu berakhir.

19. Tidak perlu mengemis cinta, atau waktu seseorang. Mereka yang ingin akan mengusahakannya.

20. Terapkan prinsip minimalis, kamu akan lega nantinya.

21. Belajarlah menerima dirimu, meskipun butuh waktu seumur hidup.

22. Lakukanlah apa yang kamu suka, selagi masih bisa.

23. Sehat itu anugerah Allah, aset jangka panjang, maka jaga dan peliharalah.

24. Kamu itu berharga, percayalah, 9 bulan dalam kandungan ibu. Nggak mungkin kamu diciptakan dengan sia-sia.

Terima kasih sudah membaca <3

Sebuah Balasan Di Bulan Desember (Part 2)

Kak Oreo sudah bekerja selama belasan tahun yang mengharuskan bertemu banyak orang, padahal dia seorang introvert. Aku nggak tahu, sudah berapa banyak orang yang dia temui dan pengalaman yang membentuknya menjadi pribadi setangguh itu. Awalnya, aku lihat suka ngetweet hal-hal yang sendu. Aku juga nggak pernah tahu seperti apa dirinya di balik tulisan-tulisannya yang kreatif itu dan nggak bisa ditebak.

Dia punya teman yang sangat ekstrovert, mereka kontras. Persamaannya sering beradu mulut dan tidak pernah serius, tapi saling menyayangi. Seperti kata Al A'masy bin Ibrahim, "Orang yang mengajak bercanda denganmu melainkan orang yang mencintaimu." Temannya Kak Oreo juga orang yang tangguh, mungkin di luar nampak tegas tapi dia juga punya persoalan hidupnya sendiri dan tengah berjuang untuk itu. 

Kak Oreo itu seorang yang pemikir, selain sejarah dia suka filsafat. Biasanya dia nonton Dr. Fahrudin Faiz seorang filsuf muslim dan penulis asal Indonesia. Mungkin dari situ dia punya pengetahuan yang membuat orang bisa betah berdiskusi dengannya. Aku sendiri biasanya suka banyak bertanya apa saja dan jawabannya membuatku lebih terbuka.

Terkadang dia bisa tiba-tiba punya quotes kayak, "Ya, intinya sih jaga diri aja, perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan." Atau yang berat, "Kayak perasaan kita suka ke orang lain, bagaimana cara menerima dan menolaknya. Bagaimana mengaturnya, memposisikannya. Perasaan kita yang nggak suka lihat orang lain bahagia, perasaan yang senang dengan hal-hal kecil. Itu kan perlu belajar terus buat sejalan dengan kehidupan yang benar."

Dia juga pernah bilang, "Sukses itu bagiku, menaklukan ketakutan-ketakutan dalam diri dan mampu maju menghadapi tantangan-tantangan apapun itu." Dan "Kalau aku percaya diri, aku sudah sukses sekarang" Menurutku dia tengah belajar tentang bagaimana menerima diri. Jujur, aku pun sama, dan aku rasa di luar sana banyak yang mengalaminya. Aku nggak tahu sampai kapan, tapi biarlah waktu yang menjawab.

Kak Oreo suka dengan Egha Latoya dan Avril Lavigne. Karena dia, aku jadi mengenal lagu Buih Jadi Permadani, liriknya indah dan terasa puitis. Waktu itu juga aku melakukan rapid test dan hasilnya positif suspek COVID 19. Aku hanya mengurung diri di kamar asrama, meski kemudian akhirnya tes antigen negatif tapi aku terlanjur terpuruk sebelumnya. Kak Oreo tiba-tiba chat, "Heh OTG!" Mungkin dia sudah lupa, tapi saat itu pernah membuatku tertawa. (OTG: Orang Tanpa Gejala). 

Bersambung.

Sabtu, 01 Agustus 2026

Sebuah Balasan di Bulan Desember (Part 1)

Enam tahun lalu, saat baru setahun aktif di Twitter (sekarang X), aku menulis sebuah tweet: "Antara Back To December dan aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember". Aku memang suka bulan Desember, karena di samping bulan kelahiran, Desember itu ada lagu yang bagus kayak judul lagu yang aku tweet tadi.

Nggak lama setelahnya ada seseorang yang reply, "Lirik lagu ERK right? :)" Tentu saja aku senang karena ada interaksi begitu, aku nggak tahu entah bagaimana algoritma tweetku muncul di dia. Sontak, aku balas saja komenan itu. Lagu itu memang sudah lama, tapi bukankah kita manusia memang senang mencari kesamaan, apalagi saat ingin berteman?

Waktu itu, aku pun DM (Direct Messages) dia duluan. Mungkin ada yang nanya kenapa aku melakukannya, karena menurutku sangat mudah memulai komunikasi di media sosial. Tinggal kita ketik sesuatu, ke orang yang dituju, terus kirim. Aku memang ingin mencari teman. Di dunia nyata, aku sulit memulai perkenalan, tidak mudah akrab, dan butuh waktu lama untuk merasa nyaman.

Ternyata, tidak kusangka orang ini merespon DM-ku dengan baik, bahkan dia juga memperkenalkan namanya dan asal daerahnya terlebih dahulu. Aku juga melakukan hal yang sama, aku bilang aku dari Aceh. Dia yang jaraknya lebih dari dua ribuan km dariku bilang, pengin banget ke titik 0 Indonesia. Aku hanya mengaminkan dan percakapan terputus setelah itu.

Tetapi, dua bulan kemudian dia tiba-tiba kirim DM, katanya mau nanya tentang Aceh. Sebenarnya, aku sudah khatam sih orang luar Aceh di Indonesia itu banyak bertanya tentang daerahku ini, mendadak aku merasa eksklusif saja jadi orang sini. Biasanya, pertanyaan yang muncul seperti "Apa semua cewek diwajibkan pakaian syar'i? Adakah penduduk non muslim di sana? Di sana pakai hukum islam? Kamu dan keluargamu mengalami kejadian Tsunami 2004? Apa ada yang pacaran di sana? Nama kamu diawali dengan Cut?" Aku pun menjawab pertanyaan mereka sepengetahuanku. Indonesia itu keren tiap daerah punya keistimewaannya sendiri, kata dia juga.

Dia bilang, suka video zaman Belanda atau zaman dulu. Menurutku, itu menarik sih. Saat kita tahu bagaimana kehidupan mereka pada masa itu sangat kontras dengan sekarang yang makin maju dengan perkembangan zaman. Masa itu sangat sederhana, begitu sulit, orang-orang sangat bekerja keras dan aku merasa sesuatu terjadi begitu alami, apa adanya. 

Beberapa bulan setelah itu, aku DM dia dan nanya, "Hai, belum tidur?" Yang dijawab, "Belum." Beberapa bulan lagi, dia pun DM aku, "Anda suka sekali begadang haha." Sebenarnya, aku malu karena kebiasaanku itu jadi ke-notice. Tapi mau bagaimana, aku memang sudah terbiasa begadang semenjak kelas 1 SMP. Waktu itu aku, aku lagi asyik-asyiknya baca cerbung tentang Coboy Junior di fanpage Facebook.

Besoknya, akhir Juli 2021. Aku DM dia kalau aku lama bakal nggak aktif di Twitter. Aku kasih tahu nomorku karena aku ingin menjaga silaturahmi dengan orang yang baik, dan tentu saja aku tidak memaksa. Aku bilang mau rehat, waktu itu aku sudah akan memasuki semester tiga saja di perkuliahan, dan aku akan stay di tempat rantauan. Kalau sebelumnya aku di rumah, atau sesekali ke kampus buat praktikum karena masih masa COVID-19

Akhirnya, kami lanjut komunikasi via WhatsApp. Aku bersyukur takdir-Nya memperkenalkan kami. Padahal kami jaraknya jauh sekali, meski masih satu negara, dia di ujung barat pulau Jawa sedangkan aku di ujung barat pulau Sumatera. Dia termasuk salah satu support systemku waktu itu, bahkan sampai sekarang. Dari aku memanggilnya "kakak" sampai jadi "teteh" aku baru sadar lazimmya panggilan itu di daerahnya. 

Bersambung.

Sambungannya đź’›