Haloha guys. Kali ini aku mau cerita seorang teman onlineku. Meski kami belum pernah bertemu tapi teman online itu berarti buatku, guys. BTW, sebenarnya aku bertanya-tanya, menurutmu teman online itu kayak gimana sih buatmu? Apakah tetap disebut orang asing? Karena ya memang kita ngga benar-benar tahu dia orangnya seperti apa. Selama ini kan cuma berhubungan lewat chatting dan telepon aja. Tapi, kalau sering komunikasi meski lewat virtual apa masih disebut 'orang asing'?
Sedikit intermezzo, jujurly aku sedih sih kalau masih dianggap 'orang asing' sama teman online karena kayak, jadi buat apa selama ini cerita tentang kehidupan, aktivitas, permasalahan yang biasa kita diskusikan kalau mereka masih menganggap kita 'orang asing'. Tapi, bukan salah mereka sih. Memang benar, harfiahnya kami memang orang asing sih, karena itu tadi kalau di media sosial kan orang-orang itu menampilkan versi terbaik dirinya saja. Mungkin, mereka hidup dalam ekspektasi kita.
Whatever it, meskipun mungkin kita memang orang asing yang kehadirannya nggak nampak di fisik tapi afeksi ditimbulkan begitu nyata. Mereka ngga merugikanku, justru sebaliknya saat aku butuh koneksi, mereka ada dan itu sudah lebih dari cukup. Mungkin juga, kita semua merasa gabut tapi mereka nggak pernah benar-benar orang asing buatku, meski aku dianggapnya orang asing. Hanya saja, aku perlu menetapkan batasan dan ekspektasiku sendiri.
Kembali ke laptop, jadi teman online yang mau kuceritakan ini kami kenal dari aplikasi bernama Slowly. Nama penanya ada unsur 'Jingga' belakangan aku juga baru tahu dia suka warna pink. Ternyata, nama jingga karena dia suka matahari terbenam. Kami sebaya sih, dan awal kukenal gaya berceritanya itu ekspresif dan energik. Tentu, kita senang mau berteman dengan orang yang seperti itu. Surat-suratnya juga panjang kami kayak langsung merasa sefrekuensi meski baru beberapa kali berbalasan surat.
Dia bilang nemu aplikasi Slowly dari Quora. Aku manggut-manggut dalam hati juga begitu. Waktu itu kami berkenalan di tahun 2023, dia bilang asalnya dari Tanah Pasundan. Baru beberapa hari kami berbalasan surat aku sudah minta akun Instagramnya wkwk, tentu aku nggak mau kehilangan teman yang kurasa kami cocok. Tapi untungnya cewek tipe J dalam MBTI ini nolak karena sepertinya masih terlalu awal. Tapi, dia malah kasih emailnya, dan saat itu sempat juga aku kirim email ke dia. Kita sebut saja 'Jingga' ya, jadi dia cerita kalau di daerahnya kepala desa disebut "Kuwu" saat aku bilang kepala desa di daerah tempatku KKL a.k.a KKN dipanggil Pak "Reje" sementara di daerah asalku sendiri namanya "Geuchik."
Saat berbalasan di Slowly, aku pernah kirim nomorku. Mungkin hal itu pribadi ya, entah kenapa aku langsung percaya saja ke dia. Padahal, dia nggak percaya padaku, pas kutanya alasannya katanya pengin saja. Lagi-lagi, aku nggak mendapatkan yang sama seperti yang aku lakukan pada orang lain. Pertama, orang lain menganggapku orang asing padahal aku tidak dengannya. Kedua, ada orang yang tidak percaya padaku, padahal aku sebaliknya. Memang sih, kepercayaan itu mahal dan jangan percaya sama manusia karena itu musyrik.
Komunikasi kami makin intens, saat aku taruh postingan di status WhatsApp salah satu capres di tahun 2024. Tidak kusangka, ternyata Jingga meresponnya. Dia juga mendukung pilihan capresku, tapi ngga bisa naikin di status karena pekerjaannya. Ya, Jingga petugas KPU saat itu. Tentu saja aku senang karena punya teman buat diskusi soalan ini.
Bersambung~